sindrom patah hati

Mungkin kamu pernah mengalami galau hingga patah hati, bisa jadi karena putus cinta, kehilangan pekerjaan, atau kondisi keuangan yang buruk. Inilah yang disebut sindrom patah hati yang merupakan gangguan sementara pada fungsi jantung. Kondisi ini, ternyata lebih sering dialami oleh para wanita.

Sindrom patah hati bisa terjadi karena stres dan emosi yang ekstrem. Lantas, apa saja tanda-tandanya dan bagaimana cara mengatasinya? Yuk, simak penjelasan di bawah ini!

Apa itu broken heart

Broken heart syndrome atau sindrom patah hati adalah penyakit jantung sementara. Terjadi karena situasi yang menyebabkan stres sehingga membuat kamu sangat emosional. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan jika kamu mengalami kondisi ini karena kondisi medis tertentu.

Saat mengalami broken heart syndrome, akan terjadi gangguan fungsi jantung, yaitu ventrikel. Gangguan ini terjadi karena aliran darah yang tidak mencukupi dari arteri koroner ke jantung.

Adanya penyakit ini menunjukkan bahwa serangan jantung tidak hanya terjadi karena penyakit jantung koroner saja, tapi dapat terjadi karena gangguan mental. Adanya riwayat stres secara emosional juga dapat menjadi pembeda antara sindrom patah hati dengan jantung koroner, yang sama-sama menyebabkan serangan jantung.

Kondisi ini dapat disembuhkan tanpa meninggalkan cacat permanen pada ventrikel jantung. Namun, dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat berakibat fatal dan menyebabkan kematian.

Penyebab sindrom patah hati

Faktanya, penyebab pasti sindrom patah hati masih belum diketahui. Namun, peningkatan hormon stres dapat menyebabkan kerusakan sementara pada jantung.

Namun, satu hal yang pasti adalah bahwa kondisi yang menyebabkan stres fisik atau mental biasanya mendahului kondisi ini. Berikut beberapa kondisi yang bisa menjadi pemicu adanya broken heart syndrome pada seseorang:

Stres emosional, seperti:

  • Kecelakaan, kematian, cedera, atau penyakit serius yang menimpa anggota keluarga, sahabat, serta hewan peliharaan.
  • Kejadian trauma mendalam dari bencana alam
  • Krisis keuangan hingga kebangkrutan.
  • Terlibat kasus hukum berat.
  • Berbicara di depan umum.
  • Menerima kabar buruk
  • Tekanan kerja atau beban kerja yang terlalu banyak.

Stres fisik yang terjadi, karena:

  • Percobaan bunuh diri.
  • Penyalahgunaan obat-obatan narkotika
  • Prosedur atau operasi selain jantung, seperti: kolesistektomi, histerektomi.
  • Memiliki penyakit serius dan kronis yang tidak kunjung sembuh.
  • Nyeri hebat, misalnya karena patah tulang, kolik ginjal, pneumotoraks, emboli paru.
  • Penyakit hipertiroid: tirotoksikosis.

Tanda-tanda sindrom patah hati atau broken heart

Jika kamu khawatir mengalami kondisi ini, berikut adalah beberapa tanda dan gejala yang mungkin ingin perlu diwaspadai:

  1. Terjadi dengan cepat setelah mengalami stres begitu berat.
  2. Nyeri pada bagian dada seperti ditekan benda besar.
  3. Sesak napas secara tiba-tiba.
  4. Sakit pada bagian lengan atau punggung.
  5. Tenggorokan terasa tercekik.
  6. Denyut nadi tidak teratur dan jantung berdebar-debar.
  7. Bisa pingsan mendadak.
  8. Beberapa kasus dapat mengalami syok kardiogenik, yakni keadaan saat jantung tidak dapat memompa darah sesuai dengan kebutuhan tubuh sehingga bisa berakibat pada kematian.

Faktor risiko broken heart syndrome

Sementara itu, berikut adalah beberapa kondisi yang meningkatkan peluang kamu terkena broken heart syndrome:

  • Wanita lebih berisiko dibanding pria.
  • Memasuki usia 50 tahun, kamu berisiko lebih besar mengalaminya
  • Mempunyai riwayat medis yang berhubungan dengan gangguan neurologis, seperti cedera kepala dan epilepsi.
  • Terdapat riwayat kesehatan yang berhubungan dengan gangguan jiwa, seperti gangguan kecemasan dan depresi.

Jika kamu memiliki salah satu dari kondisi ini dan mengalami gejala sindrom ini, pastikan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Komplikasi broken heart syndrome

Kondisi sindrom pata hati harus segera diobati. Sebab, tanpa penanganan yang tepat kamu bisa mengalami komplikasi, seperti berikut ini:

  1. Gagal jantung.
  2. Bekuan darah yang menempel pada dinding ventrikel kiri jantung.
  3. Kerusakan pada ventrikel kiri jantung.
  4. Penyumbatan aliran darah dari ventrikel kiri jantung.
  5. Serangan jantung.
  6. Kematian.

Cara mengatasi sindrom patah hati

Sindrom patah hati lebih banyak menyerang wanita, berbagai masalah kesehatan bisa timbul seperti akibat stres dan patah hati. Untuk mengatasinya, mulailah lebih bijak mengelola stres dengan baik.

Pencegahan utama yang perlu kamu lakukan agar tidak mengalami salah satu penyakit jantung tersebut adalah dengan mengelola stres dengan baik. Jika kamu sedang mengalami masalah yang serius, cobalah untuk bertindak dan berpikir secara luas dan komprehensif.

Selalu bijaksana dalam menghadapi masalah hidup, untuk lebih mudah mengatasi kondisi stres. Selain itu, memiliki gaya hidup yang seimbang juga perlu dan penting. Kamu bisa mulai dengan mengatur pola makan, rutin olahraga, serta menjaga pola berpikir selalu positif.

Cara-cara tersebut akan sangat membantu kamu untuk menjaga kesehatan fisik, serta mental kamu secara keseluruhan. Semakin sehat tubuh kamu, semakin bahagia juga kamu!

Share artikel ini
Reference