berhubungan saat hamil
Kehamilan

Berhubungan Saat Hamil, Boleh atau Tidak?

dr. Wisniaty Condro | Desember 27, 2021
Share

Berhubungan saat hamil adalah hal yang lumrah dilakukan oleh pasangan. Sayangnya, berhubungan saat hamil sering kali dikaitkan dengan risiko keguguran.

Akibatnya, tidak sedikit pasangan yang khawatir ketika ingin melakukan hubungan seks selama kehamilan. Lantas, apakah berhubungan saat hamil boleh dilakukan? Simak penjelasan berikut.

Bolehkah berhubungan di saat hamil muda?

Beberapa orang meyakini bahwa berhubungan saat hamil dapat membahayakan janin dalam kandungan, meningkatkan risiko keguguran atau memicu persalinan dini. Namun apakah hal tersebut benar?

Faktanya, janin yang berada dalam rahim dilindungi oleh otot rahim yang kuat, cairan ketuban, dan selaput di sekitar leher rahim. Dengan demikian, keguguran dan persalinan dini tidak akan terjadi.

Umumnya, berhubungan saat hamil aman dilakukan sepanjang trimester termasuk trimester pertama kecuali jika dokter atau bidan memberikan nasihat yang sebaliknya. Bahkan, hasrat seksual pada wanita justru dapat meningkat pada tahap kehamilan tertentu dan memberikan banyak manfaat seperti:

  • Membakar kalori
  • Membantu menjaga tubuh tetap bugar
  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
  • Meningkatkan kebahagiaan dan memperkuat ikatan dengan pasangan.
  • Mencapai orgasme lebih baik

Seks yang dilakukan saat hamil memberikan pengalaman yang berbeda. Beberapa wanita mengklaim bahwa rasa sensitif yang meningkat membuat orgasme terasa lebih baik. Namun, beberapa wanita justru merasa tidak nyaman hingga nyeri.

Mengapa saat hamil aktivitas berhubungan terasa sakit

Tidak hanya pada trimester pertama, perubahan hormonal yang terjadi dalam tubuh selama kehamilan memang dapat menyebabkan rasa sakit ketika berhubungan seksual. Disamping itu, ada beberapa alasan mengapa berhubungan saat hamil terasa sakit seperti:

Adanya kondisi infeksi

Kondisi seperti infeksi menular seksual, servisitis, vaginitis, dan korioamnionitis, serta penyakit radang panggul dapat menyebabkan rasa sakit saat atau setelah berhubungan seksual. Karena beberapa infeksi dapat membahayakan janin, pastikan kamu melakukan konsultasi jika hubungan seksual terasa sangat menyakitkan.

Keringnya Miss V karena perubahan hormonal

Menurut para ahli, kekeringan vagina sebenarnya jarang terjadi selama kehamilan. Ketika hal ini terjadi, gesekan dalam berhubungan seksual dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan sakit.

Oleh karena itu, pasangan disarankan untuk menggunakan pelumas atau menghindari hubungan seksual yang agresif.

Adanya tekanan pada kandung kemih

Selama kehamilan, rahim akan membesar seiring pertumbuhan dan perkembangan janin. Karena semakin besar dan berat, kandung kemih menerima lebih banyak tekanan. Tekanan pada kandung kemih akibat tumbuh kembang janin dapat menyebabkan rasa sakit saat berhubungan seksual.

Rasa cemas akan dampak negatif pada bayi

Banyak ibu hamil yang merasa khawatir dan cemas selama kehamilan. Tidak hanya khawatir akan hubungan seksual yang membahayakan janin, melainkan juga kecemasan lainnya. Ketika rasa cemas timbul, otot menjadi lebih tegang dan kaku.

Kapan berhubungan saat hamil perlu dihindari

Berhubungan seks saat hamil dapat memicu kontraksi yang bersifat sementara dan tidak membahayakan janin pada kehamilan yang normal. Namun, hal sebaliknya dapat terjadi jika kamu memiliki kondisi medis tertentu seperti di bawah ini:

Mengalami kehamilan kembar

Ibu yang mengandung dua janin atau lebih disarankan untuk banyak mengistirahatkan tubuh terutama bagian panggul. Artinya, dokter mungkin akan membatasi hubungan seksual termasuk orgasme.

Belum lagi, mendekati waktu persalinan dokter biasanya tidak menyarankan pasangan untuk melakukan hubungan seksual. Begitu pula dengan proses pemeriksaan, sebagian besar dokter akan menghindari pemeriksaan vagina.

Kondisi plasenta terlalu rendah di dalam rahim

Normalnya, plasenta terbentuk di bagian atas atau samping rahim. Namun, kondisi seperti letak plasenta terlalu rendah (plasenta previa) yang terbentuk di bawah atau di atas leher rahim dapat dialami oleh ibu hamil.

Ibu hamil dengan plasenta previa berisiko mengalami pendarahan selama kehamilan. Oleh karena itu, dokter akan menyarankan untuk menghindari hubungan seks saat hamil.

Memiliki riwayat persalinan prematur

Jika ibu memiliki riwayat persalinan prematur sebelumnya, dokter mungkin akan menyarankan agar menunda hubungan seksual selama kehamilan. Hal tersebut dilakukan karena aktivitas tersebut yang dapat memicu persalinan dini.

Serviks dalam kondisi terbuka

Inkompetensi serviks atau kondisi di mana serviks (leher rahim) terbuka terlalu dini dapat menyebabkan keguguran dan kelahiran prematur. Dokter tentu tidak akan menyarankan pasangan untuk berhubungan saat ibu mengalami inkompetensi serviks.

Memiliki riwayat keguguran

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, sekitar 1% wanita akan mengalami keguguran berulang dengan penyebab yang sulit atau bahkan tidak diketahui. Meskipun berhubungan saat hamil tidak menyebabkan keguguran, pastikan kamu menjalani pemeriksaan terkait hubungan seksual yang aman selama kehamilan.

Perlu diperhatikan, jika dokter menyarankan agar menghindari atau menunda “hubungan seks”, hal tersebut dapat mencakup orgasme dan rangsangan seks, bukan hanya hubungan seks itu sendiri. Tanyakan secara jelas hal spesifik apa saja yang harus dihindari.

Selain beberapa kondisi tersebut, kamu sebaiknya segera menghubungi dokter apabila mengalami gejala berikut disaat atau setelah berhubungan seks:

  • Mengalami pendarahan dari vagina, cairan vagina yang abnormal, rasa kram atau nyeri pada perut tanpa sebab jelas
  • Cairan ketuban telah merembes atau pecah
  • Rasa tidak nyaman terus-menerus setelah berhubungan
  • Kontraksi pada perut

Saat kehamilan mulai membesar, wanita dapat merasakan beberapa posisi saat berhubungan terasa lebih nyaman. Bicarakanlah hal tersebut secara terbuka, agar kamu dan pasangan dapat menikmati hubungan seks disaat hamil.

Reference
Share