cara mengatasi mimisan pada anak

cara mengatasi mimisan pada anak

Mimisan merupakan salah satu kondisi yang umum terjadi pada anak berusia 3 hingga 10 tahun. Sebagian besar kondisi ini disebabkan oleh kebiasaan mengorek hidung atau udara kering. Ini memang bisa menakutkan dan terdengar mengkhawatirkan, tetapi ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi mimisan pada anak, lho

Simak beragam cara mengatasi mimisan yang terjadi serta kenali apa saja penyebab dan cara pencegahannya di sini. 

Cara mengatasi mimisan pada anak

Normalnya, mimisan tidak menyebabkan rasa sakit. Namun, anak mungkin akan merasa tertekan atau takut karena melihat dan merasakan darah saat mimisan. Itu sebabnya, kenali bagaimana cara mengatasi mimisan pada anak dengan tepat dan tenang di bawah ini. 

1. Menenangkan anak

Menenangkan anak saat mereka mengalami mimisan penting dilakukan untuk mengurangi rasa cemas dan ketidaknyamanan yang mungkin dirasakan. Saat anak mimisan, cobalah tetap tenang dan tekankan pada anak bahwa ini adalah hal umum dan akan berhenti dengan sendirinya. 

2. Ajak anak untuk duduk atau berdiri tegak

Cara lainnya untuk mengatasi mimisan pada anak adalah mengajak mereka untuk duduk atau berdiri tegak. Ini bertujuan mengurangi aliran darah ke kepala dan mengurangi tekanan di area hidung. 

Dalam posisi ini, anak dapat memegang hidung bagian bawah dengan lembut sambil menekan pada tulang hidung sehingga membantu menghentikan perdarahan. Selain itu, dengan posisi tegak atau berdiri, anak dapat bernapas dengan lebih baik, yang membantu menjaga keseimbangan oksigen dalam tubuh. 

3. Tekan hidung anak

Bila sudah tenang dan dalam berada posisi duduk atau berdiri tegak, tekan hidung mereka. Namun, hal ini tentu tidak boleh dilakukan asal-asalan. Tekan hidung bagian bawah secara perlahan untuk meredakan aliran darah di area hidung yang bermasalah. 

Cara ini membantu memadatkan pembuluh darah yang pecah dan mengurangi perdarahan. Walau penekanan perlu dilakukan dengan lembut agar tidak menyebabkan rasa tidak nyaman, upaya ini efektif untuk mengurangi hingga menghentikan mimisan. 

Dengan begitu, pembuluh darah punya waktu untuk membentuk bekuan darah kecil yang bantu proses penyembuhan. 

4. Gunakan kompres dingin

Menerapkan kompres dingin pada area hidung atau dahi anak yang mengalami mimisan memiliki manfaat dalam menghentikan perdarahan. Suhu dingin dari kompres membantu menyempitkan pembuluh darah yang mengalami pecah, mengurangi aliran darah yang keluar. 

Hal tersebut juga membantu mengatasi peradangan pada pembuluh darah yang terdampak. Selain itu, sensasi dingin dapat memberikan efek nyaman dan menenangkan bagi anak. Alhasil, ini bisa membantu mengurangi kecemasan dan stres yang mungkin dialami akibat mimisan.

5. Hindari memiringkan kepala ke belakang

Pada saat menerapkan cara mengatasi mimisan pada anak, hindari memiringkan kepala ke belakang. Tindakan ini dapat menyebabkan darah mengalir ke bagian belakang tenggorokan dan masuk ke saluran pernapasan. Hal ini bisa berpotensi menyebabkan tersedak atau mengganggu pernapasan anak. 

Itu sebabnya, anak yang mimisan sebaiknya duduk atau berdiri tegak guna  menghindari risiko darah masuk ke saluran pernapasan. 

6. Berkonsultasi dengan dokter

Kamu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika terjadi kondisi di bawah ini: 

  • Mimisan pada anak terjadi secara berulang atau sulit dihentikan
  • Mimisan disebabkan oleh cedera atau trauma pada hidung
  • Disertai dengan gejala lain, seperti pusing, lemah, atau kehilangan kesadaran
  • Mimisan berlangsung lebih dari 20 menit
  • Terjadi setelah cedera kepala

Dengan begitu, dotker bisa membantu menilai kondisi anak dan memberikan perawatan yang sesuai jika diperlukan.

Penyebab mimisan pada anak

Setelah mengetahui bagaimana cara mengatasi mimisan pada anak, jangan lupa kenali apa saja yang menjadi penyebabnya. Berikut daftar penyebab mimisan pada anak yang paling sering dijumpai. 

1. Kerusakan pembuluh darah

Mimisan pada anak disebabkan oleh kerusakan pada pembuluh darah di dalam hidung. Ketika pembuluh darah ini rusak, mereka dapat pecah dan menyebabkan perdarahan yang terlihat sebagai darah keluar dari hidung.

2. Pengaruh suhu dan kelembapan udara

Perubahan suhu dan kelembapan udara dapat mempengaruhi kelembapan di dalam hidung anak. Hal ini ternyata bisa menyebabkan pembuluh darah di hidung menjadi lebih rapuh dan rentan pecah. 

Sementara itu, udara yang kering dan panas bisa mengeringkan selaput lendir di dalam hidung. Akibatnya, ini meningkatkan risiko pecahnya pembuluh darah. Hal ini terutama terjadi saat cuaca kering atau dalam kondisi lingkungan yang memiliki suhu dan kelembapan yang tidak seimbang.

3. Akibat benturan atau trauma

Ketika terjadi benturan atau trauma, tekanan yang diberikan pada pembuluh darah dapat menyebabkan kerusakan pada dinding pembuluh darah tersebut. Hal ini kemudian menyebabkan darah keluar dari pembuluh darah yang pecah dan mengalir keluar melalui hidung. 

Faktor-faktor seperti benturan, jatuh, atau cedera pada hidung dapat memicu terjadinya mimisan pada anak.

4. Pertumbuhan abnormal

Setiap jaringan abnormal yang tumbuh di hidung dapat menyebabkan pendarahan. Meskipun sebagian besar pertumbuhan ini, seperti polip, bersifat jinak, kondisi ini tetap harus segera diobati. 

5. Pilek dan alergi

Pilek atau alergi ternyata bisa menyebabkan pembengkakan dan iritasi di dalam hidung. Kondisi ini ternyata bisa menyebabkan perdarahan tiba-tiba yang biasa disebut sebagai mimisan. 

Pencegahan mimisan pada anak

Bila melihat penyebab dan cara mengatasi mimisan pada anak di atas, tentu kamu tidak ingin hal tersebut terjadi pada anak, bukan? Untungnya, ada beberapa cara untuk mencegah mimisan terjadi yang bisa kamu coba pada anak. 

  • Menjaga kelembapan ruangan
  • Mengajak anak berhenti mengorek hidung
  • Memotong kuku anak secara teratur
  • Memastikan anak minum air yang cukup

Nah, itu tadi sederet informasi seputar cara mengatasi mimisan pada anak dengan tepat agar tidak salah langkah. Bila ada gejala yang menghawatirkan, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat. 


Penulis: Nabila Azmi

Share artikel ini
Reference