pembalut yang aman ini kategorinya

pembalut yang aman ini kategorinya

Pembalut yang aman adalah kebutuhan yang paling krusial bagi kebanyakan perempuan. Saat ini pembalut memiliki bahan lebih tipis, lebih ringan dan lebih efektif. Pembalut juga tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran yang sesuai dengan kebutuhan semua perempuan.

Seorang perempuan rata-rata menggunakan antara 5-10 pembalut per siklus menstruasi. Saat siklus menstruasi datang, memilih kriteria atau kategori pembalut yang aman menjadi tantangan bagi perempuan.

Dalam memilih pembalut, terkadang kamu merasa was-was karena cemas jika pembalut yang kamu pilih akan menimbulkan iritasi pada kulit atau bahkan membahayakan organ intim.

Sehingga kamu pun dituntut untuk lebih teliti dan menggali informasi. Banyak aspek yang perlu kamu pertimbangkan untuk memilih pembalut yang aman. Simak informasinya berikut ini:

Kategori pembalut aman

World Health Organization (WHO) menggunakan metode penilaian risiko untuk mengetahui keamanan bahan kimia. Penilaian ini merupakan bagian dari proses jaminan termasuk untuk kategori pembalut yang aman. Penilaian tersebut diantaranya berdasarkan:

Identifikasi bahaya

Pembalut terdiri dari berbagai bahan sintetis atau kimia sehingga proses penilaian toksikologi perlu dilakukan. Proses tersebut mencakup identifikasi berdasarkan potensi efek samping toksik yang dapat ditimbulkan dari zat-zat kimia maupun produk yang diselidiki.

Hasil akhir penilaian yang dianggap relevan berupa iritasi kumulatif akut dan iritasi mekanik pada kulit, sensitivitas yang terjadi setelah kontak langsung, dan efek setelah terpapar oleh komponen dalam produk maupun residu kimia yang dapat secara signifikan menyebabkan efek toksik sistemik.

Pembalut aman jika tidak bersifat iritatif, nyaman di kulit, dan tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya.

Paparan zat kimia

Untuk mengukur paparan zat kimia bisa dilihat dengan seberapa banyak durasi dan frekuensi paparan saat menggunakan pembalut yang umumnya berbahan sintetis.

Oleh karena itu, para peneliti menganjurkan penggantian pembalut dengan frekuensi tertentu misalnya 5 pembalut per hari di hari pertama saat aliran menstruasi sedang deras.

Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah paparan zat kimia terlalu lama, juga untuk menjaga kebersihan area organ intim.

Karakterisasi risiko

Aspek ini penting sebagai tolak ukur untuk pembalut yang aman agar tidak memiliki risiko efek merugikan yang bermakna terhadap kesehatan. Salah satunya adalah risiko alergi.

Stigma menstruasi yang masih lekat di kebanyakan perempuan adalah bawah cairan atau darah menstruasi itu kotor. Stigma ini menimbulkan ketakutan akan organ intim yang beraroma tidak sedap sehingga produk pembalut yang mengandung parfum seringkali menjadi pilihan.

Tetapi para ahli menganjurkan agar kamu tak terperangkap dalam stigma tersebut karena kandungan parfum dalam pembalut rentan mengiritasi organ intim. Kandungan parfum juga dapat mengubah pH alami pada organ intim sehingga dapat menimbulkan infeksi.

Kategori pembalut aman menurut Kemenkes

Selain kriteria kategori di atas, Kementerian Kesehatan RI juga mengimbau kamu untuk memilih pembalut yang aman sesuai dengan kategori berikut ini:

1. Pembalut memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI) resmi

Kemenkes mewajibkan setiap produk pembalut harus memenuhi persyaratan sesuai dengan SNI 16-6363-2000, yakni pembalut yang aman harus memiliki daya serap minimal 10 kali dari bobot awal.

2. Kandungan chlorine rendah

Berdasarkan Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009, pembalut termasuk alat kesehatan dengan risiko rendah dan harus mendapatkan izin edar. Produk dengan risiko rendah akan memberikan dampak yang minimal terhadap kesehatan.

Badan SNI mensyaratkan hasil uji pembalut yang aman adalah tidak berfluoresensi kuat atau tidak ada fluoresensi yang menunjukkan kontaminasi. Fluoresensi adalah uji yang dilakukan untuk melihat adanya kandungan klorin yang terdapat dalam pembalut.

3. Bebas dioksin

Saat proses produksi pembalut yang berbahan dasar selulosa melalui proses bleaching atau pemutihan. Bleaching adalah pemutihan yang tidak menggunakan elemen gas chlorine dengan metode Elemental Chlorine-Free (ECF) Bleaching dan Totally Chlorine-Free (TCF) yang dinyatakan bebas dioksin.

Kemenkes melarang penggunaan gas chlorine dalam proses pemutihan bahan baku pembalut yang aman karena gas chlorine dapat menghasilkan senyawa dioksin yang bersifat karsinogenik atau dapat menyebabkan pertumbuhan sel kanker.

Nah, setelah mengetahui kategori pembalut yang aman di atas, apakah kamu mulai bisa membedakan mana pembalut yang aman dan tidak? Jangan lupa untuk mengecek setiap produk pembalut yang kamu pilih. Yuk, jadi pengguna yang cerdas.

Share artikel ini
Reference