Haruskah bertahan dari suami yang kasar?

Seseorang terkadang menunjukkan sifat aslinya saat berada dalam kondisi tertekan. Jika suami sering berkata kasar tentu hal ini membuat kamu bimbang ya ladies. Bagaimana menyikapinya dan haruskah bertahan dengan suami yang kasar?

Tentunya memiliki suami dengan sifat kasar bisa membuat pasangannya tidak nyaman, menyakiti hati dan merasa gagal dalam memilih pasangan. Lalu, bagaimana menyikapi suami kasar? Yuk, coba ikuti ulasan berikut ini.

Sifat kasar dalam hubungan

Sifat kasar dalam suatu hubungan bisa memperkeruh rumah tangga. Sifat kasar dapat membuka gerbang kekerasan dalam rumah tangga. Jika suami memiliki sifat kasar, maka istri harus bisa menyikapinya agar dapat menghadapi sikap suami yang seperti ini.

Sifat kasar merupakan salah satu jenis kekerasan. Kekerasan tidak hanya melibatkan fisik, namun juga perlakuan lainnya seperti hinaan, ejekan, dan kata-kata kasar. Tindakan ini termasuk dalam kekerasan dalam bentuk verbal.

Kamu harus tahu bagaimana ciri ciri dari suami yang kasar sehingga dapat memutuskan haruskah bertahan dengan suami yang kasar atau mencoba terus bersabar dengan sikapnya.

Ciri ciri suami yang kasar

Apapun alasannya, istri tidak perlu mendapatkan kekerasan baik verbal dan fisik dari suami. Kenali suami dengan sifat kasar agar dapat segera dilakukan tindakan:

  • Suka menggertak
  • Suka mengkritik
  • Menuntut pasangan
  • Membuat malu pasangan
  • Bersikap seolah mengetahui semua hal
  • Memiliki pikiran negatif
  • Egois
  • Pemarah
  • Mudah naik darah

Sifat suami yang suka berkata kasar tentu sebuah ancaman bagi keharmonisan rumah tangga. Tentunya jika suami melakukan tindakan yang lebih buruk seperti kekerasan fisik, pelecehan dan sebagainya, kamu harus segera meminta bantuan orang lain, ya.

Tindakan ini menjadi hal yang membingungkan bagi istri dan terus bertanya haruskah bertahan dengan suami yang kasar.

Penyebab suami bersifat kasar

Sebagai istri kamu mungkin bertanya-tanya, mengapa suami bersifat kasar? Apalagi, sikap ini tidak terjadi pada saat awal menikah. Ada beberapa alasan atau penyebab suami dapat bersifat kasar, yaitu:

  • Suami membenci istri karena tidak memberikan penghasilan.
  • Suami menganggap istri adalah sumber masalah.
  • Suami tidak bisa mengelak kritikan atas dirinya.
  • Suami berpikir bahwa wanita mempunyai status yang lebih rendah.
  • Egois dan hanya berpikir soal dirinya sendiri.
  • Suami tidak bisa berbicara soal perasaan karena menganggap itu adalah kelemahan.
  • Suami tidak menghormati istrinya.
  • Suami pernah melihat anggota keluarga dengan sifat yang sama kasarnya.

Sifat kasar suami terkadang memiliki alasan, namun apakah istri akan dapat terus menerima alasan dan bertahan?

Haruskah bertahan dengan suami yang kasar

Suami yang melakukan kekerasan dan bersifat kasar memang menjadikan istri tidak tahan dan ingin memutuskan hubungan. Lalu apakah suami dapat berubah sikap? Mengubah sikap seseorang tidak mudah dan itu keinginan berubah itu harus ada dalam dirinya.

Suami yang ingin melakukan perubahan sifat dan mencoba mempertahankan hubungan dapat diketahui dari ciri ciri berikut:

Kesadaran datang dari dirinya sendiri

Untuk mengubah sifat kasar suami, hal itu tidak dapat dilakukan oleh istri ataupun orang lain. Harus ada motivasi kuat sehingga sifat kasar dapat diubah ke arah yang lebih baik.

Mengakui perbuatan

Suami tidak lagi menyangkal sifatnya dan mengakui apa yang telah diperbuat, hal ini bisa menjadi tanda bahwa suami ingin berubah. Suami dapat memperbaiki kesalahan, meminta maaf, dan tidak mengulangi hal yang sama.

Minta bantuan orang lain

Jika kamu masih bingung haruskah bertahan dengan suami yang kasar, cobalah untuk meminta bantuan tenaga ahli jiwa untuk dapat mengubah sifat kasar dalam dirinya. Kesungguhan perubahan sifat ini bisa ditandai dengan meminta bantuan orang lain.

Menerima konsekuensi perbuatan

Menerima konsekuensi terhadap sifat kekerasan atau kasar yang pernah dilakukan baik itu dari keluarga atau lingkungan sekitar.

Memiliki cara lain untuk meluapkan emosi

Mencoba mencari cara untuk meluapkan emosi dengan cara lain dan tidak lagi menggunakan kekerasan atau kata-kata kasar.

Haruskah bertahan dengan suami yang kasar? Tentunya hal ini bisa dilihat dari cara suami apakah ingin tetap memiliki sifat kasar. Jika memang suami dapat menunjukkan perubahan, bisa jadi rumah tangga masih dapat diselamatkan.

Cara menghadapi suami yang kasar

Suami memiliki sifat kasar harus bisa disikapi dengan cara tegas. Tips untuk menghadapi suami kasar antara lain:

  1. Bersikap tenang. Usahakan tenang dan tidak tersulut emosi saat suami berkata kasar. Berikan sugesti positif dan coba lihat kembali apa yang membuat suami berkata kasar.
  2. Tidak perlu membalas perkataan suami. Tahan diri untuk tidak membalas perkataan suami. Meski menyakitkan, namun menahan diri penting agar pembicaraan tidak semakin menanas.
  3. Dengarkan dan ajak suami diskusi. Jika emosi suami mereda, coba dengarkan kembali dan ajak suami diskusi untuk menyatakan pendapat kamu akan apa yang suami lakukan.
  4. Beri waktu. Berikan waktu kepada diri kamu sendiri untuk dapat mengamati apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Jika kamu merasa bahwa suami tidak dapat lagi diajak diskusi dengan baik dan dia tidak membantu mempertahankan rumah tangga, maka mungkin bercerai bisa menjadi solusinya. Namun jika suami masih ada keinginan untuk memperbaiki diri, maka bantuan dari konseling pernikahan atau konseling keluarga dapat menjadi cara untuk menemukan solusi yang lebih baik.

Memang tidak mudah menghadapi suami yang egois dan haruskah bertahan dengan suami yang kasar. Kenali sejauh apa kemampuan kamu dalam menghadapi suami. Berikan waktu kepada dirimu sendiri untuk mengevaluasi hubungan rumah tangga.

Share artikel ini
Reference