detak jantung janin normal
Kehamilan

Detak Jantung Janin yang Normal: Ini Dia Batas Idealnya

dr. Wisniaty Condro | Maret 11, 2022
Share

Salah satu indikator kesehatan janin yang dapat diukur secara sederhana adalah dengan memeriksa detak jantung janin. Bagi sebagian besar orangtua, pemeriksaan ini adalah salah satu momen yang banyak dinanti-nantikan karena mereka dapat melihat ataupun mendengar detakan jantung si buah hati.

Akan tetapi, untuk mengetahui detak jantung janin yang normal memerlukan beberapa metode dan pemeriksaan yang bergantung pada faktor seperti usia kandungan, posisi janin dan lain sebagainya.

Yuk, kita simak ulasan artikel berikut di bawah untuk mengetahui seluk-beluk detak jantung janin yang normal.

Kapan detak jantung janin bisa terdeteksi?

Detak jantung janin dapat terdeteksi saat usia kehamilan 5-6 minggu dengan menggunakan ultrasound vaginal. Detak jantung bayi menjadi salah satu acuan pemeriksaan perkembangan janin selama kehamilan. Kadangkala, jika pemeriksaan ini dilakukan terlalu dini, detak jantung mungkin justru tidak terdengar saat pemeriksaan ultrasound yang pertama.

Beberapa hal yang mungkin menyebabkannya dapat berupa:

  • Metode pemeriksaan yang digunakan oleh dokter saat memeriksa detak jantung bisa saja tidak dapat mendeteksi detak jantung janin secara dini
  • Perkiraan tanggal yang tidak akurat, baik hari pertama haid terakhir (HPHT) maupun siklus ovulasi yang tidak teratur
  • Bayi bergerak sangat aktif dalam kandungan sehingga menghambat pemeriksaan
  • Posisi janin dalam kandungan
  • Usia kandungan

Jadi, saat kamu belum mendengar denyut jantung buah hati saat pemeriksaan ultrasound yang pertama, itu bukan berarti menandakan adanya gangguan pada kehamilan. Dokter mungkin akan kembali menjadwalkan pemeriksaan ultrasound ulang agar dapat mendeteksi detak jantung si kecil dengan jelas.

Kecepatan detak jantung janin

Sebenarnya kecepatan detak jantung janin tidak selalu konsisten pada awal kehamilan dan dapat bervariasi pada setiap janin dan kehamilan itu sendiri. Kecepatan detak jantung janin dapat berkisar antara 90 sampai 110 kali per menit pada awal kehamilan.

Kemudian, saat memasuki minggu ke 9 dan 10 kehamilan, detak jantung janin akan meningkat hingga 170 kali per menit. Barulah setelah itu, detak jantung akan mulai normal dan stabil antara 120 – 160 kali per menit di trimester kedua dan ketiga kehamilan.

Beberapa faktor yang dapat memengaruhi kecepatan detak jantung janin meliputi:

  • Kadar gula dalam darah, dimana kadar gula yang tinggi berkaitan dengan detak jantung janin yang lebih cepat dan begitupun pula sebaliknya.
  • Aktivitas janin, dimana fluktuasi detak jantung juga dipengaruhi oleh aktivitas dan stres pada janin. Janin yang aktif memiliki detak jantung yang lebih cepat dibandingkan dengan janin yang sedang tertidur
  • Asupan nutrisi ibu, ibu hamil yang mengonsumsi makanan seperti cokelat, gula, dan kopi dapat menstimulasi detak jantung bayi.

Di samping itu, apabila dokter menemukan kecepatan denyut jantung janin tidak stabil, maka dokter mungkin akan meminta ibu hamil untuk mengubah posisi saat pemeriksaan agar bayi mendapat pasokan oksigen yang cukup. Jika hal ini masih tidak berubah, maka pemeriksaan lanjutan mungkin diperlukan untuk mengetahui penyebab kondisi tersebut.

Detak jantung janin normal

Detak jantung janin dapat berubah-ubah sesuai dengan usia janin dalam kandungan. Kecepatan detak jantung janin pada awalnya lambat, kemudian terus meningkat setiap harinya hingga akhirnya stabil pada usia sekitar 12 minggu. Detak jantung janin normal pada periode tersebut berkisar antara 120 – 160 kali per menit.

Agar kamu bisa lebih memahami perubahan detak jantung bayi yang berfluktuasi, berikut ini grafik perubahan denyut jantung bayi di setiap minggu:

  • Usia 5 minggu: 80 – 103 kali per menit
  • Usia 6 minggu: 103 – 126 kali per menit
  • Usia 7 minggu: 126 – 149 kali per menit
  • Usia 8 minggu: 149 – 172 kali per menit
  • Usia 9 minggu: 155 – 195 kali (rata-rata 175 kali per menit)
  • Usia 12 minggu: 120 – 180 kali (rata-rata 150 kali per menit)
  • Setelah 12 minggu: 120 – 160 kali (rata-rata 140 kali per menit)

Selama 28 hari pertama setelah bayi lahir, kecepatan detak jantung yang dimilikinya dapat berkisar antara 100 – 165 kali per menit dalam kondisi bangun dan sekitar 90 – 160 kali per menit dalam kondisi tertidur

Apakah detak jantung janin bisa dirasakan dengan tangan?

Kemajuan tumbuh kembang janin dalam kandungan seringkali membuat ibu merasakan adanya getaran, ketukan ataupun denyutan pada perut yang seringkali dikira sebagai detak jantung bayi. Namun, hal ini bukanlah detak jantung janin, melainkan gerakan janin dalam kandungan atau getaran pembuluh darah pada perut ibu.

Dengan demikian, detak jantung janin tidak bisa dirasakan dengan tangan. Untuk mengetahuinya, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi detak jantung janin dengan menggunakan 2 metode, yakni:

Metode pemindaian transvaginal

Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan alat ke dalam vagina untuk memantau perkembangan embrio pada tahap awal kehamilan. Ultrasound (USG) transvaginal biasanya dapat membantu mendeteksi detak jantung embrio sebelum memasuki usia 11 minggu.

Akan tetapi, umumnya detak jantung janin sulit terdeteksi sampai memasuki minggu ke 7 usia kehamilan. Prosedur pemeriksaan ini juga masih dapat dilakukan ketika pemeriksaan ultrasound perut tidak menemukan gambaran jelas janin dalam kandungan.

Metode pemindaian transabdominal

Selama trimester kedua dan ketiga, jantung bayi telah terbentuk secara sempurna dan pemeriksaan ultrasound transabdominal dapat membantu dalam mendeteksi detakan jantung janin. Prosedur ini dilakukan oleh dokter dengan mengoleskan gel pada area perut bagian bawah dan kemudian alat ultrasound akan digerakkan sepanjang perut untuk memeriksa rahim dan janin di dalamnya.

Beberapa orangtua terkadang penasaran dan ingin mencoba memeriksa detakan jantung si kecil dengan membeli alat pemantau jantung janin rumahan. Alat ini pada dasarnya menggunakan teknologi ultrasound yang beremisi sangat rendah dan hanya boleh digunakan apabila telah disetujui oleh dokter.

Hal ini dikarenakan paparan ultrasound yang terlalu sering akan menimbulkan reaksi penghangatan dan terbentuknya formasi gelembung pada jaringan di janin. Dan hingga saat ini, dampaknya bagi kesehatan ibu dan janin masih belum diketahui secara pasti.

Lalu, bagaimana cara mengecek detak jantung janin yang aman?

Cara mengecek detak jantung janin

Cara mengecek detak jantung janin oleh dokter umumnya dapat dilakukan dengan 2 metode yakni pemantauan denyut jantung janin secara eksternal dan internal. Biasanya kedua jenis pemeriksaan ini digunakan pada akhir trimester kehamilan atau ketika persalinan.

Pemantauan detak jantung janin eksternal

Prosedur pemeriksaan ini menggunakan alat yang disebut dengan Doppler ultrasound untuk mendengar detak jantung melalui perut ibu hamil. Biasanya prosedur ini digunakan saat pemeriksaan prenatal untuk mengetahui perkembangan janin.

Pemantauan detak jantung janin internal

Prosedur pemeriksaan ini menggunakan alat transducer yang ditempelkan pada kepala janin saat pembukaan serviks. Hal ini bertujuan agar dapat membantu mengukur detak jantung janin. Biasanya prosedur ini digunakan saat persalinan sehingga detak jantung janin dan kontraksi rahim dapat dipantau secara bersamaan

Kesehatan janin dalam kandungan tentunya menjadi perhatian bagi setiap pasangan. Namun, pemeriksaan detak jantung janin semata sebenarnya tidak dapat menyimpulkan kondisi kesehatan janin secara keseluruhan. Jadi, tetaplah ikuti anjuran pemeriksaan yang disarankan oleh profesional kesehatan, ya.

Reference
Share