apakah tbc bisa sembuh total

Tuberkulosis (TBC) adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru, dengan gejala umum seperti batuk kronis, nyeri dada, kelelahan, dan batuk darah.

Bakteri penyebab TBC sulit dihilangkan jika menginfeksi tubuh, sehingga banyak yang bertanya-tanya apakah TBC bisa sembuh total? mengingat kasus di Indonesia sendiri, TBC menempati peringkat kedua setelah India dalam hal jumlah kasus dan kematian, dengan angka mencapai 969 ribu kasus dan 93 ribu kematian per tahun.

Yuk ketahui lebih lanjut mengenai penyakit ini agar kamu bisa menjaga dan mengantisipasi sejak dini!

Berapa lama orang bisa sembuh dari TBC?

kanker paru-paru

Kunci utama untuk menyembuhkan penyakit ini sepenuhnya adalah melalui pengobatan medis yang tepat. Orang yang terkena TBC harus mengikuti berbagai aturan pengobatan yang direkomendasikan oleh dokter, termasuk minum obat anti tuberkulosis sesuai petunjuk.

Pengobatan TBC melibatkan dua tahap, yaitu pengobatan intensif dan pengobatan lanjutan, yang dapat berlangsung selama 6-12 bulan.

Penyakit TBC dapat sembuh total apabila penderita menyelesaikan kedua tahap pengobatan tersebut. Meskipun gejala TBC berkurang atau hilang selama pengobatan, penting untuk tetap mengonsumsi obat TBC sesuai jadwal.

12 Makanan Sehat untuk Penderita TBC dan Pantangannya

Apakah TBC bisa sembuh total?

Penderita TBC ternyata bisa sembuh total jika menjalankan pengobatannya dengan konsisten. Saat didiagnosis TBC, dokter akan memberikan rencana pengobatan yang perlu dijalani, biasanya minimal 6 bulan.

Pada kasus TB laten (TBC tanpa gejala), pengobatan mungkin berlangsung singkat, sekitar 1-3 bulan, tetapi harus tetap dijalani secara konsisten. Mengikuti petunjuk minum obat TBC dengan benar adalah kunci kesembuhan.

Meskipun mungkin merasa lebih baik dalam 2-4 minggu, hal ini tidak berarti sembuh sepenuhnya. Penting untuk tidak berhenti minum obat sebelum 6 bulan, karena ini bisa membuat TBC semakin parah dan menyebabkan resistensi obat.

Moms, Kenali 17 Gejala TBC Anak Dan Pengobatan Yang Tepat

Bakteri TBC yang resisten obat bisa menyebabkan TB MDR (multidrug-resistant), yang memerlukan pengobatan lebih lama dan berisiko menularkan ke orang lain.

Jadi, TBC tidak bisa sembuh sendiri. Pengobatan antibiotik yang direncanakan oleh dokter adalah satu-satunya cara untuk kesembuhan yang efektif.

Apakah TBC bisa kambuh lagi?

susu tb paru

Kambuhnya TBC dapat terjadi saat gejala tuberkulosis muncul lagi setelah pengobatan, hal ini karena disebabkan oleh bakteri yang sama (relaps) atau strain bakteri TBC yang berbeda (reinfection). Ini bisa terjadi selama atau setelah pengobatan 6 bulan.

Kambuhnya penyakit TBC ini sebagian besar disebabkan oleh pengobatan yang tidak selesai atau tidak konsisten, bukan infeksi ulang. Resistensi bakteri terhadap obat TBC dapat menyebabkan kekambuhan selama pengobatan, terutama pada TB MDR akibat minum obat tidak teratur atau berhenti di tengah jalan.

Beberapa pasien mungkin akan merasa sembuh dalam beberapa minggu pertama pengobatan dan berhenti minum obat, yang dapat menyebabkan kekambuhan TBC atau MDR-TB.

Kambuhnya TBC juga ternyata dapat dipicu oleh faktor lain lho, yang harus kamu waspadai. Baik dari penyakit lain dan gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan minuman beralkohol setelah pengobatan.

Obat TBC agar sembuh total

Cara utama mengobati TBC adalah dengan menggunakan antibiotik. Ini penting karena penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri.

Apakah TBC bisa sembuh total? pada dasarnya bisa, asalkan konsumsi obat sesuai anjuran dokter dan rutin. Berikut adalah langkah-langkah pengobatan TBC berdasarkan jenis penyakitnya:

1. Pengobatan TB laten

TB laten harus segera diobati karena bisa menjadi TB aktif yang menular. Ada tiga pilihan obat antibiotik yang umumnya digunakan:

  • Isoniazid: Dikonsumsi setiap hari selama sembilan bulan.
  • Rifampisin: Biasanya dikombinasikan dengan isoniazid dan diminum selama tiga bulan.
  • Isoniazid dan Rifapentine: Dikonsumsi sekali seminggu selama tiga bulan.

Langkah pengobatan di atas adalah bagian penting dari penanganan TBC dan harus dilakukan sesuai dengan anjuran dokter.

2. Pengobatan TB aktif

Pasien dengan TBC aktif memerlukan pengobatan antibiotik selama 6-9 bulan untuk penyembuhan yang efektif. Obat-obat TBC yang diperlukan termasuk Ethambutol, Isoniazid, Pyrazinamide, dan Rifampicin.

Dalam menentukan obat yang tepat, dokter mungkin akan melakukan tes terlebih dahulu untuk mengidentifikasi jenis bakteri tuberkulosis dalam tubuh pasien.

Berdasarkan hasil tes tersebut, pasien mungkin akan diberikan 3-4 jenis obat TBC selama dua bulan pertama. Kemudian, jumlah obat akan dikurangi menjadi dua jenis dan diminum selama 4-7 bulan berikutnya.

Meskipun ada perbaikan kondisi dalam beberapa minggu pertama pengobatan, pasien tidak boleh menganggap penyakit TBC tidak menular. Penting untuk terus minum antibiotik meskipun kondisi membaik. Keputusan untuk menghentikan pengobatan hanya dapat diambil oleh dokter.

3. Pengobatan TBC dengan resistensi antibiotik

Jika seseorang menderita jenis tuberkulosis yang tidak merespons pada obat-obatan TBC standar, ini menunjukkan TBC resisten antibiotik atau resistensi antibiotik.

Pengobatan TBC resisten antibiotik memerlukan kombinasi obat lain yang mungkin kurang efektif. Durasi pengobatan bisa lebih panjang, sekitar 20-30 bulan.

Obat-obatan yang umumnya digunakan untuk TBC resisten antibiotik meliputi:

  • Antibiotik fluoroquinolone
  • Antibiotik suntik seperti amikasin, kapreomisin, dan kanamisin
  • Antibiotik lain seperti bedaquilin, etionamid, dan para-aminosalisilat

Apakah TBC bisa sembuh total? mengingat pengobatan dan pemulihan TBC tipe ini kompleks. Bila tidak ditangani dengan benar, penyakit ini dapat berakibat fatal. Oleh karena itu, sangat penting bagi pasien untuk mengikuti arahan dokter dengan teliti.

Kebanyakan penyakit TBC bisa sembuh total apabila pengobatan yang diawasi oleh dokter dijalankan dengan tepat dan konsisten. Pasalnya, ketidakteraturan dalam mengonsumsi obat dapat menyebabkan bakteri TBC menjadi kebal terhadap antibiotik.
__

Penulis: Annisa Sukarno

Share artikel ini
Reference