toxic feminity
Hidup Sehat

Mengenal Toxic femininity, Stigma, dan Cara Menyikapinya

Putri Aprillia | Desember 12, 2021
Share

Apakah kamu pernah mendengar istilah Toxic Femininity? Istilah tersebut diartikan sebagai tuntutan atau diskriminasi yang terjadi pada perempuan. Hal tersebut jika tidak dapat disikapi dengan baik, dapat menghambat proses berkembang menjadi lebih baik.

Lantas tuntutan seperti apa yang dimaksud? Bagaimana cara menyikapi jika mendapat tuntutan toxic femininity? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

Apa itu toxic femininity?

Toxic femininity adalah tuntutan sosial berupa stereotip masyarakat yang ditujukan pada perempuan. Toxic femininity ini biasanya dituntut oleh pihak tertentu pada seorang perempuan, sehingga memungkinkan seorang perempuan mendapatkan tekanan dari tuntutan tersebut.

Secara sederhana, toxic femininity merupakan standarisasi suatu masyarakat tentang hal-hal yang harus dimiliki atau dilakukan oleh perempuan. Salah satu contoh toxic femininity misalnya anggapan bahwa perempuan harus bisa masak.

Di Indonesia, hal semacam itu sebenarnya sudah sering kita dengar, misalnya dari para orang tua. Seiring berkembangnya zaman dan munculnya gema kesetaraan gender, tuntutan-tuntutan tertentu yang hanya merujuk pada perempuan perlahan mulai dihilangkan.

Toxic femininity vs seksisme

Dalam kasusnya sehari-hari, istilah toxic femininity sering disama artikan dengan istilah seksisme. Padahal kedua memiliki makna yang berbeda. Sekilas memang keduanya terdengar sama, padahal kedua hal ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

Seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya, toxic femininity adalah tuntutan sosial yang dianggap normal untuk dilakukan atau dimiliki oleh seorang perempuan.

Sementara itu, seksisme merupakan diskriminasi terhadap seseorang karena adanya perbedaan jenis kelamin atau gender. Dalam seksisme, salah satu gender dianggap lebih superior daripada gender lainnya.

Sebagai contoh, adanya anggapan bahwa laki-laki lebih cocok untuk memimpin sebab memiliki kemampuan berpikir lebih baik, sementara perempuan tidak cocok memimpin karena terlalu emosional. Padahal perempuan juga bisa memimpin dengan baik. Anggapan semacam itulah yang dianggap diskriminatif atau seksisme terhadap perempuan.

Apa saja asumsi toxic femininity

Pernahkah kamu mendengar pernyataan bahwa wanita idaman adalah wanita yang bisa memasak? Ini adalah salah satu contoh toxic feminity.

Hal tersebut kerap dipandang sebagai hal yang wajar dan normal oleh masyarakat karena adanya stigma-stigma yang sudah ada sejak dulu. Stigma seperti ini kerap membuat perempuan merasa tidak cukup dan tidak memenuhi ekspektasi feminis orang lain hanya karena ia tidak bisa melakukan apa yang diharapkan orang lain kepadanya sebagai wanita.

Selain stigma yang menyatakan bahwa wanita seharusnya bisa memasak, ada beberapa stigma-stigma lain yang berkaitan dengan toxic feminity seperti:

  • Perempuan tidak perlu punya pendidikan tinggi
  • Perempuan seharusnya menikah lebih cepat dan segera punya anak
  • Perempuan sudah seharusnya bisa berdandan demi menyenangkan hati pasangan
  • Perempuan seharusnya bisa menjaga berat badan
  • Dan sebagainya

Bagaimana cara menyikapi toxic femininity?

Nah, setelah kamu paham apa itu toxic femininity, sebaiknya kamu juga memahami bagaimana cara menyikapi kondisi ini. Ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan, seperti:

Saat berhadapan dengan pria:

  • Hindari melakukan hal yang tidak ingin kamu lakukan.
  • Jangan membiasakan diri memainkan kartu “perempuan lebih lemah”. Jika kamu sering berusaha mengambil keuntungan untuk lepas dari tanggung jawab, misalnya aktivitas fisik, dengan alasan kamu adalah perempuan dan kamu lebih lemah, pria akan benar-benar menganggapmu memang lemah.
  • Tegur wanita lain jika mereka melecehkan pasangan pria mereka, baik secara fisik maupun verbal.
  • Jika terjadi masalah, kamu tetap harus membela yang benar, tidak peduli apakah dia pria atau wanita.

Saat berhadapan dengan wanita:

  • Jangan memandang wanita lain berdasarkan stereotip atau stigma yang merendahkan wanita.
    Jangan memotong pembicaraan wanita lain.
  • Jangan mempermalukan wanita lain ketika mereka memilih pakaian, makanan, atau hal tertentu yang menurutku “tidak wajar untuk wanita”.
  • Jangan ragu memberikan hadiah yang walaupun jarang diterima wanita karena stereotip. Jika teman wanitamu suka bermain bola, tidak ada salahnya membelikannya baju bola.
  • Jika ingin mengatakan sesuatu kepada wanita lain, katakanlah dengan berterus terang, bukan dengan gaya bahasa yang lebih halus dari gaya bahasa yang biasa kamu gunakan saat mengatakan hal yang sama kepada pria.

Demikian pengertian toxic femininity, asumsi-asumsi, serta cara menyikapinya. Buat kamu kaum perempuan, kamu berhak menentukan apa yang ingin kamu raih dan ingin kamu lakukan selama hal tersebut masih dalam batas positif. Jangan sampai toxic femininity ini membatasimu untuk meraih sesuatu yang kamu inginkan, ya.

Reference
Share