selaput dara di mana letaknya
Period Stigma & Taboo

Mitos Dan Fakta Hubungan Selaput Dara Dengan Keperawanan

Imelda Rahmawati | April 5, 2022
Share

Selaput dara merupakan bagian dari reproduksi wanita yang tak pernah betul-betul dibahas tuntas. Selaput dara letaknya di mana dan seperti apa hubungannya dengan keperawanan juga memiliki informasi simpang siur. Selama ini selaput dara sering dianggap sebagai bukti keperawanan seorang wanita, padahal itu tak sepenuhnya benar dan bisa menyesatkan.

Selaput dara merupakan bagian dari tubuh wanita, tapi tidak semua wanita memilikinya. Kenapa? Hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal yang memiliki penjelasan ilmiah. Apa itu? Mari kita simak penjelasan di bawah ini.

Selaput dara letaknya di mana?

Ada banyak bagian vagina, termasuk selaput dara. Selaput dara letaknya di mana? Itu terletak di sisi bawah lubang vagina. Selaput ini juga bisa disebut cincin selaput dara jika melingkari dinding luar lubang vagina.

Selaput dara memiliki banyak bentuk. Jika selaput dara utuh, mungkin terlihat seperti cakram tipis yang menutupi lubang vagina atau cincin berbentuk donat di sekitar vagina. Jika selaput dara tidak sepenuhnya menutupi lubang vagina, mungkin akan terlihat seperti bulan sabit. Beberapa selaput dara memiliki lubang kecil atau banyak lubang. Selaput dara mungkin juga memiliki skin tag atau permukaan kulit yang menonjol yang disebut hymenal tag.

Selaput dara sebagian besar terdiri dari jaringan yang elastis yang dapat meregang saat kulit di sekitar vagina bergerak. Bagian selaput dara yang menempel pada vulva sedikit lebih tebal atau lebih padat.

Bentuk selaput dara

Selaput dara bayi yang baru lahir cukup tebal dan dapat pecah secara alami dalam beberapa hari pertama kelahiran. Kondisinya tetap tebal dan dapat menonjol selama dua hingga empat tahun pertama kehidupan seorang anak. Pada usia empat tahun, selaput dara biasanya menjadi lebih tipis dan halus.

Setiap wanita memiliki bentuk yang berbeda, yang umum adalah berbentuk bulan sabit untuk mempermudah haid keluar dari vagina. Bentuk lain selaput dara biasanya merupakan kelainan, seperti:

  1. Selaput dara cribriform (cribriform hymen) adalah selaput dara yang memiliki banyak lubang kecil. Anomali selaput dara ini dapat diperbaiki dengan operasi kecil.
  2. Imperforasi selaput dara (imperforate hymen) adalah selaput dara yang benar-benar menutupi lubang vagina. Bentuk ini dapat menghalangi aliran keputihan dan darah menstruasi. Setelah terdeteksi, dokter dapat merekomendasikan operasi kecil untuk memungkinkan vagina berfungsi secara normal.
  3. Mikroperforasi selaput dara (microperforate hymen), selaput dara yang menutupi lubang vagina tetapi dengan lubang kecil di dalamnya. Lubang tersebut memungkinkan keputihan normal, tetapi dapat menyebabkan menstruasi yang lebih lama karena darah tidak keluar dari vagina dengan kecepatan normal. Selaput dara mikroperforasi dapat sembuh dengan sendirinya, atau dokter mungkin merekomendasikan operasi kecil untuk memperbaikinya.
  4. Septum selaput dara (Septate hymens) memiliki jaringan ekstra yang membentang secara vertikal atau horizontal melintasi area normal selaput dara, seperti tali yang menghubungkan dua sisi vagina dan membuatnya seperti punya dua bukaan. Bentuk selaput dara ini cenderung robek saat berhubungan seks, yang dapat menyebabkan rasa sakit, pendarahan ringan, atau ketidaknyamanan. Dokter bisa menyarankan operasi yang membuatnya membuang kelebihan dari jaringan.

Kelainan selaput dara

Kelainan selaput dara tidak menyebabkan efek kesehatan jangka panjang, tetapi dapat menyebabkan ketidaknyamanan, nyeri panggul, atau pendarahan, terutama jika kamu sedang menstruasi atau mencoba berhubungan seks. Biasanya, dokter akan memeriksa selaput dara bayi saat mereka lahir dan membuat rekomendasi medis untuk memperbaiki masalah apa pun.

Seiring bertambahnya usia, jika bentuk selaput dara mencegah menstruasi normal, dokter mungkin merekomendasikan prosedur bedah kecil yang disebut hymenectomy untuk mengangkat jaringan berlebih.

Selama selaput dara tidak menyebabkan rasa sakit fisik atau mencegah dari menstruasi atau menggunakan tampon, tidak perlu mengubah bentuk selaput dara Anda.

Hubungan selaput dara dengan keperawanan

Ada mitos bahwa selaput dara yang robek berarti seorang wanita telah kehilangan keperawanannya. Beberapa budaya masyarakat percaya bahwa untuk mendeteksi apakah seseorang telah berhubungan seks adalah dengan memeriksa apakah selaput dara mereka masih utuh, atau apakah mereka berdarah saat berhubungan seks pertama kali.
Faktanya, tidak ada bukti bahwa hubungan seksual mengubah selaput dara. Juga tidak benar bahwa semua orang akan berdarah saat pertama kali berhubungan seks. Beberapa selaput dara lebih elastis daripada yang lain, jadi berhubungan seks untuk pertama kali mungkin tidak merusaknya.

Fakta selaput dara

Setelah masa pubertas, selaput dara menjadi lebih besar dan lebih elastis. Tidak mungkin selaput dara kamu akan berubah secara permanen dengan hubungan seksual atau penetrasi oleh benda kecil seperti tampon atau jari. Namun, selaput dara tetap memiliki potensi untuk rusak. Ketika selaput dara pecah, biasanya tidak menimbulkan rasa sakit, dan tidak selalu berdarah.

Ini beberapa fakta selaput dara yang harus diketahui:

1. Tidak semua orang memiliki selaput dara

Beberapa wanita dilahirkan dengan selaput dara yang sangat kecil atau tanpa selaput dara sama sekali. Ini sangat sehat dan tidak berarti mereka kehilangan apa pun, atau membutuhkan perhatian medis.

2. Selaput dara sangat bervariasi dalam tampilannya

Tidak semua selaput dara dalam wanita memiliki bentuk sama. Tidak ada standar ‘normal’ dalam hal penampilan selaput dara.

3. Selaput dara tidak menutupi vagina

Selaput dara bukanlah selaput lengkap yang menutupi lubang vagina penuh. Faktanya, darah menstruasi bisa melewati vagina sebelum kita melakukan hubungan seks penetrasi untuk pertama kali.

Keperawanan bahkan keperjakaan sejatinya hanyalah produk budaya masyarakat. Jika keduanya menjadi tanda seorang sudah atau belum berhubungan seks (secara biologis), maka harus perlu definisi yang jelas menyangkut seks. Apakah menggunakan tampon, masturbasi, operasi kelamin, menggunakan kb (spiral), dan banyak lainnya, termasuk seks?
Bila seks diartikan sebagai memasukkan sesuatu ke dalam vagina, maka konsep keperawanan dan keperjakaan cenderung menyesaatkan, karena tidak ada hubungannya dengan kondisi selaput dara. Selaput dara bisa tetap utuh, atau rusak, bahkan tidak ada sejak awal, baik sebelum, selama, maupun sesudah berhubungan seks.

Mitos selaput dara

Banyak mitos beredar tentang selaput dara, seperti berikut ini:

1. Selaput dara pecah saat pertama kali berhubungan seks atau selaput dara tanda perawan

Kondisi selaput dara masing-masing wanita berbeda-beda. Ada yang selaputnya tipis, ada juga yang lahir tanpa selaput dara. Pada saat kamu melakukan hubungan seks untuk pertama kalinya, selaput dara mungkin sudah cukup tipis untuk tidak terpengaruh sama sekali.

2. Masturbasi merusak selaput dara

Penetrasi (dengan jari atau benda) dapat meregangkan selaput dara. Tapi seseorang bisa masturbasi tanpa penetrasi apapun juga. Stimulasi klitoris adalah salah satu cara terbaik bagi wanita untuk mencapai orgasme. Jadi mitos, jika masturbasi eksternal menyebabkan selaput dara robek.

3. Selaput dara bisa tumbuh kembali

Berbeda dengan lubang vagina, setelah diregangkan, selaput dara tidak kembali ke bentuk semula atau tumbuh kembali.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyebut pemeriksaan keperawanan sebagai “pelanggaran hak asasi anak perempuan dan perempuan” yang memperkuat gagasan stereotip tentang seksualitas perempuan dan ketidaksetaraan gender.

“Tidak ada pemeriksaan yang dapat membuktikan seorang gadis atau wanita telah melakukan hubungan seks – dan penampilan selaput dara gadis atau wanita tidak dapat membuktikan apakah mereka telah melakukan hubungan seksual atau belum,” kata WHO secara definitif pada tahun 2018 untuk mengakhiri praktik tersebut yang masih lazim di seluruh dunia.

Wanita berada di bawah begitu banyak tekanan untuk hidup dengan mitos keperawanan dan selaput dara. Sudah waktunya kita mengakhiri mitos ini.

 

Photo by Timothy Meinberg on Unsplash

Reference
Share