lesi primer sipilis yang dapat ditemukan pada mulut
Kesehatan Umum

Ciri-ciri Penyakit Sifilis pada Wanita, Jangan Dianggap Sepele

dr. Wisniaty Condro | November 9, 2021
Share

Penyakit sifilis dikenal juga sebagai raja singa merupakan salah satu penyakit tersering yang menular melalui hubungan seksual. Gejala penyakit ini tidak spesifik dan mirip dengan penyakit lain pada umumnya sehingga sering juga disebut sebagai ‘the great imitator‘.

Menurut penelitian, jumlah penderita penyakit sifilis di Indonesia terus meningkat setiap tahun dan dapat mengenai semua kalangan. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik indonesia per Juli-September 2019, jumlah pasien penderita sifilis mencapai angka 1.586 orang.

Penyakit sifilis yang tidak diobati secara holistik dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Untuk mencegah bahaya infeksi penyakit ini, yuk kita simak ulasan di bawah ini.

Apa itu penyakit sifilis?

Sifilis adalah penyakit disebabkan oleh bakteri treponema pallidum, yang termasuk dalam filum Spirochaetae. Bakteri ini berbentuk spiral. Penyakit ini ditandai dengan lesi primer yang disebut dengan chancre (area peradangan dan ulkus) yang tampak pada area genital segera setelah infeksi primer.

Bakteri ini menular dari orang ke orang melalui kontak langsung dengan luka sifilis. Setelah individu terinfeksi oleh sifilis, makan bakteri sifilis akan berdiam di dalam tubuh dalam kondisi tidak aktif selama beberapa dekade sebelum akhirnya kembali aktif.

Penyakit sifilis yang tidak diobati dapat menyebabkan gejala kesehatan serius.

Penyebab penyakit sifilis

Penyakit sifilis disebabkan oleh bakteri treponema pallidum. Penyakit ini dapat menular melalui:

  1. Kontak dengan luka sifilis, bakteri dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka kecil, lecet pada kulit, ataupun selaput lendir.
  2. Penggunaan jarum suntik secara bergantian dengan orang yang telah terinfeksi sifilis, transfusi darah
  3. Hubungan seksual melalui vaginal, anal, ataupun oral. Penyakit sifilis juga dapat menyebar melalui lesi aktif di mulut saat berciuman.

Penyakit sifilis dapat menyerang mulut dan struktur di dalamnya, alat kelamin luar, vagina, anus dan rektum (bagian akhir dari saluran pencernaan). Wanita yang terinfeksi sifilis pada masa kehamilan dapat menularkan infeksi ke bayi dalam kandungan atau bahkan selama persalinan sehingga dapat menyebabkan kecacatan pada bayi.

Sifilis tidak menyebar dengan menggunakan toilet, bak mandi, pakaian atau peralatan makan yang sama, serta gagang pintu, kolam renang, ataupun bak air panas.

Faktor risiko penyakit sifilis

Penyakit sifilis dapat menyerang individu dari berbagai macam kalangan. Namun, terdapat beberapa aktivitas yang menyebabkan seseorang lebih rentang tertular penyakit ini seperti:

  1. Seseorang rentan tertular penyakit sifilis jika:
  2. Melakukan hubungan seksual tanpa pengaman
  3. Perilaku seks berganti-ganti pasangan
  4. Hubungan seksual sesama jenis
  5. Terinfeksi dengan HIV

Seseorang tidak dapat mengetahui secara langsung apakah ia tertular atau tidak. Oleh karena itu, pemeriksaan secara berkala di fasilitas layanan kesehatan bagi individu yang berisiko tinggi dan juga ibu hamil diperlukan agar penyakit ini dapat segera ditangani secara tepat.

Ciri-ciri penyakit sifilis

Seseorang yang menderita penyakit sifilis akan mengalami beberapa gejala. Biasanya gejala sifilis pada wanita akan muncul dalam rentang waktu 21 hari atau antara 10-90 hari setelah terkena bakteri treponema pallidum.

Ciri-ciri penyakit sifilis dapat terlihat seperti penyakit lainnya. Namun, biasanya sifilis memiliki tahap perkembangan selama berminggu-minggu, hingga bertahun-tahun. Berikut adalah ciri-ciri penyakit sifilis pada wanita berdasarkan tahapannya:

Tahap primer

Munculnya luka sifilis atau chancre menandai tahap primer dari penyakit sifilis. Luka sifilis biasanya keras, bulat dan tidak menimbulkan rasa nyeri. Lokasi lesi pada tahap primer dapat ditemukan pada bibir atau mulut bagian dalam, organ genital serta anus dan rektum.

Berlangsung selama 3 sampai 6 minggu, luka sifilis dapat sembuh jika menerima pengobatan yang adekuat. Bila tidak dilakukan pengobatan, infeksi dapat berlanjut ke tahap sekunder.

Tahap sekunder

Ciri-ciri penyakit sifilis pada wanita tahap sekunder adalah ruam kulit dan lesi selaput mukosa (lapisan yang menghasilkan lendir). Ruam kulit dapat muncul ketika atau beberapa minggu setelah chancre primer sembuh.

Tidak terasa gatal, ruam sifilis sekunder dapat berbentuk bintik-bintik kasar, merah, atau kecoklatan di telapak tangan dan bawah kaki.

Disamping itu, lesi besar yang menonjol, berwarna abu-abu atau putih dapat berkembang di daerah hangat dan lembab seperti mulut, ketiak, atau selangkangan. Selain itu, terdapat ciri-ciri lain dari penyakit sifilis tahap sekunder seperti:

  1. Demam
  2. Pembengkakan kelenjar getah bening
  3. Sakit tenggorokkan
  4. Rambut rontok
  5. Sakit kepala
  6. Penurunan berat badan
  7. Nyeri otot
  8. Kelelahan

Sama seperti sifilis tahap pertama, sifilis sekunder akan hilang dengan atau tanpa pengobatan. Namun, tanpa pengobatan, infeksi akan berkembang ke tahap laten atau mungkin tersier.

Tahap laten

Pada tahap laten atau tersembunyi adalah tahap dimana tidak ada ciri-ciri penyakit sifilis pada wanita. Meskipun tidak ada ciri-ciri ataupun gejala lain, tanpa pengobatan, orang yang terinfeksi akan terus memiliki penyakit sifilis di tubuh mereka.

Dapat berlangsung selama bertahun-tahun, sifilis laten dibagi menjadi dua yaitu:

Sifilis laten dini

Merupakan infeksi sifilis laten yang terjadi dalam 12 bulan terakhir

Sifilis laten lanjut

Merupakan infeksi sifilis yang terjadi lebih dari 12 bulan terakhir.

Tahap tersier

Dapat muncul 10-30 tahun setelah infeksi sifilis pertama, sifilis tersier yang tidak diobati berakibat fatal bagi tubuh. Ciri-ciri penyakit sifilis tersier pada wanita bervariasi, tergantung sistem organ yang terinfeksi.

Namun, biasanya sifilis tersier mengganggu sistem organ termasuk otak, saraf, mata, pendengaran, jantung, pembuluh darah, hati, tulang, serta persendian.

Diagnosis penyakit sifilis

Diagnosis dan identifikasi penyakit sifilis secara serologis biasanya dilakukan dengan beberapa tahap dari tes treponemal dan nontreponemal. Berikut penjelasannya:

Tes treponemal

Tes treponemal seperti TPHA (Treponema pallidum hemagglutination assay) dan TPPA (Treponema pallidum particle agglutination assay) dilakukan untuk mendeteksi antibodi yang spesifik untuk sifilis. Antibodi treponemal akan tetap terdeteksi seumur hidup bahkan setelah pengobatan berhasil.

Tes nontreponemal

Pemeriksaan untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi sifilis tidak cukup hanya dengan menggunakan satu modalitas saja.

Jika tes treponemal digunakan untuk skrining dan hasilnya positif, tes nontreponemal seperti VDRL (Venereal disease research laboratory) dengan titer harus dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis dan menentukan keputusan dokter untuk langkah penanganan berikutnya.

Selain kedua modalitas pemeriksaan di atas, dokter dapat saja melakukan pemeriksaan alat kelamin atau bagian tubuh lain, mengambil tes darah, serta melakukan tes swab.

Pengobatan penyakit sifilis

Pengobatan penyakit sifilis pada wanita dapat menggunakan antibiotik penisilin yang sudah diresepkan oleh profesional kesehatan. Dengan dosis dan pemilihan jenis penisilin yang tepat, perawatan ini akan mencegah perkembangan penyakit namun tidak memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi.

Selama pengobatan, penderita diharapkan untuk menjauhkan diri dari kontak seksual dengan pasangan sampai luka sifilis benar-benar sembuh.

Penderita disarankan untuk terbuka dengan pasangan terkait penyakit dan pengobatan yang sedang dijalani. Pasangan seksual juga dapat melakukan tes dan menerima pengobatan jika memang diperlukan.

Bahaya penyakit sifilis

Penyakit sifilis yang tidak diobati selama bertahun-tahun dapat menyebar, menyebabkan gangguan pada otak atau organ tubuh lainnya, bahkan mengancam jiwa. Beberapa penderita sifilis mungkin akan mengalami:

  1. Meningitis
  2. Penyakit stroke
  3. Demensia
  4. Kehilangan koordinasi
  5. Kehilangan sensasi indra getar
  6. Mengalami masalah penglihatan hingga kebutaan
  7. Mengalami masalah jantung
  8. Pada wanita hamil yang terinfeksi treponema pallidum dan tidak mendapat pengobatan dapat menyebabkan keguguran, bayi lahir mati, ataupun infeksi serius pada bayi

Pencegahan penyakit sifilis

Penyakit sifilis dapat disembuhkan dengan menggunakan obat berupa antibiotik. Namun, pengobatan sifilis tidak dapat memulihkan kerusakan yang telah terjadi. Ditambah lagi, seseorang yang telah sembuh dari penyakit sifilis dapat mengalami infeksi ulang.

Oleh karena itu lindungi diri kamu dari infeksi penyakit sifilis dengan cara berikut ini:

  1. Menggunakan pengaman saat melakukan hubungan seksual
  2. Menghindari perilaku seks berganti-ganti pasangan
  3. Melakukan pemeriksaan berkala pada individu dan pasangan
  4. Menerapkan gaya hidup dan pola makan yang sehat
Reference
Share