Darah yang keluar dari rahim wanita setelah melahirkan
Kehamilan Proses Melahirkan

Apa Itu Darah yang Keluar dari Rahim Setelah Melahirkan?

Putri Aprillia | Maret 19, 2022
Share

Dalam kondisi normal, darah yang keluar dari vagina setelah melahirkan disebut lokia atau darah nifas. Selain darah nifas, beberapa wanita mungkin mengalami perdarahan postpartum abnormal.

Dalam istilah medis, kondisi ini disebut perdarahan postpartum (postpartum hemorrhage). Kondisi ini perlu mendapat penanganan secepatnya karena berpotensi menimbulkan komplikasi serius, bahkan dapat menyebabkan kematian pada wanita yang melahirkan.

Untuk tahu lebih lanjut tentang pendarahan setelah melahirkan, yuk simak artikel berikut ini!

Apa itu darah yang keluar dari rahim wanita setelah melahirkan?

Darah yang keluar dari rahim wanita setelah melahirkan disebut Perdarahan postpartum atau disebut juga daraf nifas. Setelah melahirkan, tubuh wanita akan mengeluarkan plasenta, baik setelah persalinan normal atau setelah operasi caesar. Saat ini terjadi, rahim melakukan kontraksi yang kuat untuk melepaskan plasenta yang menempel di dinding rahim.

Kamu tidak bisa begitu saja menutup pembuluh darah yang terbuka. Butuh waktu dan proses untuk menutup pembuluh darah ini agar rahim berkontraksi dan menghentikan pendarahan. Selain kontraksi rahim, menyusui juga dapat membantu meningkatkan produksi hormon oksitosin, yakni hormon dalam tubuh yang juga dapat membantu menghentikan pendarahan.

Saat plasenta dilepas, pembuluh darah robek sehingga darah membanjiri rahim. Hal ini terjadi setelah bayi dilahirkan. Umumnya, kondisi keluarnya darah nifas terjadi selama 4-5 minggu pasca melahirkan.

Selama kondisi ini terjadi, kamu tidak perlu panik. Penanganannya cukup dilakukan seperti saat kamu sedang dalam masa haid. Kamu hanya perlu mengganti pembalut secara teratur dan membersihkan diri, terutama tangan, sebelum dan setelah mengganti pembalut.

Namun ingat, di kondisi ini, kamu tidak disarankan memakai tampon karena ini dapat menularkan bakteri ke dalam rahim yang masih dalam tahap penyembuhan.

Jenis perdarahan setelah melahirkan

Secara umum, perdarahan postpartum abnormal dibagi menjadi perdarahan postpartum primer dan perdarahan postpartum sekunder. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Perdarahan postpartum primer

Perdarahan postpartum primer terjadi dalam 24 jam pertama setelah melahirkan. Biasanya perdarahan ini disebabkan karena lemahnya otot rahim (miastenia), tetapi bisa juga disebabkan oleh sisa plasenta, robekan pada rahim, leher rahim, atau vagina, dan masalah pembekuan darah.

Perdarahan postpartum sekunder

Sedikit berbeda dengan perdarahan primer, perdarahan postpartum sekunder terjadi antara 24 jam hingga 6 minggu postpartum. Biasanya, kondisi ini disebabkan oleh infeksi pada rahim (endometritis), yang merupakan penyebab kematian paling umum saat melahirkan.

Selain endometritis, retensi plasenta dan sisa kantung ketuban di dalam rahim juga dapat menyebabkan perdarahan postpartum sekunder. Pasalnya, plasenta atau kantung ketuban tetap berada di dalam rahim, mencegah rahim berkontraksi dengan baik untuk menghentikan pendarahan.

Penyebab perdarahan setelah melahirkan

Selama persalinan, otot-otot rahim secara alami berkontraksi dan mendorong plasenta keluar dari rahim. Setelah plasenta berhasil dikeluarkan, kontraksi rahim dirancang untuk menghentikan pendarahan dengan menekan pembuluh darah di dinding rahim tempat plasenta melekat.

Pada perdarahan normal, darah berangsur-angsur berkurang dan akhirnya berhenti dalam beberapa minggu setelah melahirkan. Namun, jika terjadi gangguan, perdarahan bisa berlanjut dan berlebihan.

Faktor risiko terjadinya perdarahan setelah melahirkan

Selain penjelasan di atas, terdapat pula beberapa faktor yang menempatkan wanita pada risiko perdarahan postpartum abnormal, yaitu:

  • Riwayat perdarahan pada kehamilan sebelumnya
  • Kelebihan berat badan atau obesitas
  • Usia 40 tahun atau lebih saat melahirkan
  • Kelahiran anak kembar
  • Memiliki plasenta previa
  • Mengalami preeklamsia
  • Anemia selama kehamilan
  • Operasi caesar
  • Persalinan lebih dari 12 jam
  • Melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 kg

Tanda-tanda perdarahan setelah melahirkan

Beberapa tanda perdarahan postpartum yang tergolong normal adalah:

  • Sejumlah besar darah merah cerah dapat dikeluarkan sebelum pendarahan. Terkadang pendarahan disertai dengan pelepasan bekuan darah.
  • Secara bertahap, darah berubah menjadi merah muda, coklat, dan akhirnya digantikan oleh cairan kuning-putih.

Apakah darah yang keluar setelah melahirkan berbahaya?

Darah nifas dianggap tidak normal lagi jika disertai dengan gejala berikut ini:

  • Darah postpartum berbau tidak sedap
  • Pada 4 hari pasca persalinan, meskipun sudah istirahat dengan baik, keputihan masih banyak dan berwarna merah cerah
  • Pendarahan yang tiba-tiba setelah melahirkan sehingga wanita yang baru melahirkan harus mengganti lebih dari satu pembalut dalam satu jam
  • Banyak gumpalan darah berukuran cukup besar yang keluar dari vagina
  • Demam disertai pusing atau pingsan
  • Sakit perut bagian bawah saat ditekan
  • Detak jantung cepat dan tidak teratur

Perdarahan postpartum merupakan kejadian yang umum dialami oleh setiap wanita yang melahirkan. Namun jika gejala perdarahan postpartum muncul seperti di atas, maka diperlukan penanganan medis segera agar perdarahan postpartum dapat ditangani dengan baik.

Reference
Share