urutan organ reproduksi wanita

Organ reproduksi wanita sebenarnya terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian luar dan dalam. Setiap organ memiliki peranan masing-masing. Tentunya menjaga kesehatan dan kebersihan organ reproduksi sangat penting dilakukan, baik oleh pria maupun wanita. Sehingga, organ-organ tersebut dapat menjalankan fungsinya dengan baik.

Namun, sebelum memperhatikan kesehatan dan kebersihannya, kamu harus tahu urutan organ reproduksi dari luar ke dalam pada wanita. Maka, simak terus artikel berikut untuk mendapatkan penjelasan lengkapnya.

Fungsi umum organ reproduksi wanita

Dilansir dari Hello Sehat, organ reproduksi pada wanita membantu tubuh dalam menjalankan beberapa fungsi seperti melahirkan bayi, memproduksi sel telur, dan menjaga sel telur yang telah dibuahi oleh sel sperma, sebagai tempat pembuahan sel telur, dan sebagainya.

Sama seperti organ tubuh lainnya, organ reproduksi juga perlu dirawat dan dijaga kesehatannya. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya gangguan seperti timbulnya penyakit pada sistem reproduksi. Namun, sebagian orang masih belum menyadari kerentanannya.

Urutan organ reproduksi dari luar ke dalam pada wanita

Anatomi reproduksi wanita meliputi bagian luar dan dalam. Alat reproduksi wanita bagian luar berfungsi untuk memungkinkan sel sperma masuk ke dalam tubuh dan melindungi alat reproduksi dari organisme penyebab infeksi.

Apa saja organ reproduksi wanita bagian luar? Bagian luar organ reproduksi meliputi:

Labia mayora

Labia mayora berfungsi untuk melindungi organ reproduksi eksternal lainnya. Selama masa pubertas, akan terjadi pertumbuhan rambut pada labia mayora.

Labia minora

Labia minora bisa memiliki beragam bentuk dan ukuran. Letaknya tepat di dalam labia mayora dan mengelilingi bukaan ke vagina dan uretra. Kulit ini sangat halus sehingga mudah iritasi dan bengkak.

Kelenjar bartholin

Kelenjar ini terletak di sebelah lubang vagina. Kelenjar ini menghasilkan cairan sekresi.

Klitoris

Klitoris berupa tonjolan kecil yang bersifat sensitif. Klitoris ditutupi oleh lipatan kulit yang disebut preputium.

Lantas, apa saja organ reproduksi wanita bagian dalam? Bagian dalam organ reproduksi meliputi:

Vagina

Vagina merupakan saluran yang menghubungkan serviks (bagian bawah rahim) ke bagian luar tubuh. Bagian ini juga dikenal sebagai jalan lahir.

Rahim

Rahim merupakan organ reproduksi yang menjadi tempat bagi janin yang sedang berkembang. Rahim terbagi menjadi dua bagian, yaitu serviks dan korpus. Serviks merupakan bagian bawah rahim sedangkan korpus merupakan bagian utama rahim.

Ovarium

Ovarium adalah kelenjar kecil berbentuk oval yang terletak di kedua sisi rahim. Ovarium menghasilkan hormon dan sel telur.

Tuba fallopi

Tuba fallopi merupakan saluran sempit pada bagian atas rahim dan berfungsi sebagai jalur bagi ovum untuk bergerak dari ovarium ke rahim. Proses pembuahan sel telur oleh sel sperma biasanya terjadi di saluran ini. Sel telur yang telah dibuahi akan bergerak ke rahim untuk ditanamkan ke lapisan rahim.

Cara kerja organ reproduksi wanita

Ovarium menghasilkan sel telur yang biasanya disebut ovum. Kemudian, ovum menuju ke tuba fallopi dimana proses pembuahan oleh sperma bisa terjadi. Ovum yang telah dibuahi akan bergerak ke rahim.

Setelah itu, lapisan rahim akan menebal sebagai respons terhadap hormon dari siklus reproduksi. Ovum akan ditanamkan ke dalam lapisan rahim dan akan terus berkembang. Jika tidak terjadi implantasi, maka lapisan rahim akan luruh dan terjadilah menstruasi.

Siklus menstruasi rata-rata berlangsung sekitar 28 hari. Siklus ini mencakup tiga fase yang meliputi:

Fase folikuler

Fase ini dimulai pada hari pertama menstruasi. Selama fase ini, akan terjadi beberapa peristiwa berikut ini.

  • Hormon perangsang folikel dan hormon luteinizing dilepaskan dan akan mengalir dalam darah ke ovarium.
  • Hormon-hormon ini akan memicu pertumbuhan 15 hingga 20 sel telur di ovarium,
  • Hormon-hormon ini juga akan memicu peningkatan produksi hormon estrogen.
    Ketika kadar estrogen meningkat, hal ini akan menghentikan produksi hormon perangsang folikel.
  • Hormon ini akan membatasi jumlah folikel yang akan mempersiapkan sel telur untuk dilepaskan.
  • Saat fase ini berlangsung, satu folikel dalam satu ovarium akan menjadi dominan dan menekan folikel lain. Folikel dominan ini akan terus memproduksi estrogen.

Fase ovulasi

Fase ini umumnya akan terjadi sekitar 14 hari setelah fase folikuler dimulai. Selama fase ini, akan terjadi beberapa peristiwa berikut ini.

  • Kenaikan kadar estrogen memicu jumlah hormon luteinizing yang diproduksi oleh otak. Hal ini menyebabkan folikel dominan melepaskan sel telur dari ovarium.
  • Saat sel telur dilepaskan, sel ini akan ditangkap di ujung tuba fallopi dan masuk ke dalam tuba fallopi.
  • Selama satu sampai lima hari sebelum ovulasi, akan ada peningkatan produksi cairan keputihan berupa lendir yang membantu jalannya sel sperma untuk bertemu dengan sel telur.

Fase luteal

Fase ini dimulai tepat setelah proses ovulasi. Beberapa peristiwa yang terjadi pada fase ini adalah:

  • Setelah melepaskan sel telur, folikel ovarium yang telah kosong akan berkembang menjadi korpus luteum.
  • Korpus luteum akan mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron. Progesteron akan mempersiapkan rahim sebelum ditanamkan sel telur yang telah dibuahi.
  • Jika pembuahan telah terjadi, sel telur akan berjalan melalui tuba fallopi dan ditanamkan di dalam rahim. Sehingga, akan terjadi kehamilan.
  • Namun, jika sel telur tidak dibuahi, sel telur ini akan melewati rahim. Lapisan rahim akan luruh, kemudian akan dimulai siklus menstruasi berikutnya.

Saat wanita mengalami menopause, sistem reproduksi wanita akan berhenti secara bertahap dalam memproduksi hormon yang diperlukan oleh sistem reproduksi untuk bekerja. Pada tahap ini, siklus menstruasi akan menjadi tidak teratur dan pada akhirnya berhenti.

Share artikel ini
Reference