tes keperawanan
Period Stigma & Taboo

Seperti Apa Tes Keperawanan Itu? Benarkah Akurat?

Putri Aprillia | April 5, 2022
Share

Umumnya, orang-orang berpikir bahwa keperawanan selalu diukur dari selaput dara wanita yang masih utuh atau sudah robek. Jika selaput daranya sudah robek, wanita tersebut dianggap tidak perawan lagi.

Padahal, sebenarnya seorang wanita bisa disebut tidak perawan jika ia telah melakukan hubungan seksual vagina, dan selaput dara yang robek bisa saja disebabkan oleh faktor lain, seperti aktivitas fisik, prosedur pengobatan tertentu, penggunaan tampon, dan sebagainya.

Dari penjelasan singkat ini, kamu mungkin bertanya-tanya apa itu tes keperawanan dan apakah tes ini efektif dilakukan atau tidak. Yuk, simak penjelasan berikut!

Apa itu tes keperawanan?

Tes keperawanan adalah suatu pemeriksaan ginekologis yang dipercaya dapat mengetahui apakah seorang wanita masih perawan atau tidak. Tes utama biasanya dilakukan dengan mengecek langsung selaput dara yang terdapat di bukaan vagina. Tujuannya adalah untuk melihat bentuk selaput dan apakah itu mengarah pada tanda-tanda aktivitas seksual di masa lalu.

Di beberapa negara, tes ini dibuat untuk memeriksa korban kasus pemerkosaan. Melalui hasil tes, penyidik dapat melihat bahwa korban benar-benar merasa tidak nyaman atau benar-benar mendapatkan pemerkosaan. Tes ini memang masih kontroversial di berbagai negara, karena sebagian orang percaya bahwa tes keperawanan adalah pelanggaran hak asasi perempuan.

Tes ini juga cenderung memiliki efek negatif, baik fisik maupun psikologis. Kemungkinan efek negatifnya adalah rasa malu, mengingat kembali peristiwa traumatis, rasa sakit, stres, depresi, hingga gangguan kecemasan.

Bagaimana cara tes keperawanan?

Terlepas dari kenyataan bahwa tes keperawanan tidak dapat memberikan informasi tentang keperawanan seorang wanita atau tidak, beberapa alasan tentu mengharuskan seseorang menjalani tes ini.

Tes ini biasanya dilakukan melalui pemeriksaan panggul atau pemeriksaan vagina. Prosedur ini dilakukan dengan memeriksa selaput dara. Tujuannya untuk mengetahui apakah selaput dara teregang atau robek, yang menandakan bahwa seseorang sudah tidak perawan.

Menurut International Society for Sexual Medicine, sebagian besar metode pengujian keperawanan dilakukan dengan menggunakan metode “dua jari”. Metode ini dilakukan dengan memasukkan dua jari ke dalam lubang vagina untuk memeriksa selaput dara.

Namun, pemeriksaan sebenarnya tidak dapat mengungkapkan apakah wanita itu perawan atau aktif secara seksual. Bahkan seorang dokter kandungan pun tidak dapat menentukan keperawanan seorang wanita dengan pemeriksaan fisik. Ini karena struktur dan elastisitas selaput dara bervariasi pada setiap wanita.

Pentingkah tes keperawanan?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak menganjurkan melakukan tes keperawanan dalam keadaan apapun karena merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Secara ilmiah, tidak ada metode dalam komunitas medis untuk menguji keperawanan dengan menguji selaput dara.

Tes keperawanan sebenarnya dapat berdampak buruk pada kondisi fisik, psikologis, dan sosial seorang wanita. Apalagi jika penyidikan ini dilakukan terhadap korban kekerasan dan pelecehan seksual. Mengingat alasan ilmiah yang belum terbukti dan risiko membahayakan kesehatan mental wanita, tes keperawanan dengan mengecek selaput dara seharusnya tidak boleh dilakukan.

Siapa pun dapat memiliki definisi keperawanan yang berbeda. Namun tes ini masih menjadi kontroversi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Mengingat status perawan merupakan struktur sosial, budaya dan agama, maka pemahaman dan konsep perawan kembali kepada masing-masing individu.

Tujuan tes keperawanan

Ada berbagai kepercayaan di masyarakat mengenai legalitas tes keperawanan perempuan. Tes keperawanan sendiri merupakan tradisi yang sudah lama dilakukan di berbagai belahan dunia karena alasan tertentu. Ada beberapa alasan melakukan tes ini, seperti:

  • Kesepakatan pra-nikah dengan calon mempelai
  • Syarat penerimaan karyawan baru di instansi tertentu
  • Seleksi pekerjaan profesional di bagian kesehatan, kepolisian, atau tokoh masyarakat
  • Uji fisik untuk kasus pemerkosaan

Tes yang dilakukan untuk syarat profesional tertentu seperti di bagian kesehatan, petugas kepolisian, dan bahkan tokoh masyarakat dilakukan untuk menilai kehormatan dan nilai sosial perempuan.

Mitos dan fakta tes keperawanan

Ada mitos yang berkembang bahwa melakukan tes keperawan dengan metode dua jari cukup akurat untuk mengetahui apakah selaput dara wanita telah robek atau belum. Jika selaput dara robek, artinya wanita tersebut sudah pernah melakukan hubungan seksual.

Padahal, struktur dan elastisitas selaput dara setiap wanita bisa berbeda-beda. Sehingga, tidak dapat dijadikan acuan bahwa selaput dara sebagai bukti keperawanan. Dengan kata lain, menggunakan selaput dara sebagai penentu tes ini tidaklah efektif. Hanya karena selaput dara kendur atau robek, bukan berarti wanita tersebut sudah pernah melakukan hubungan seksual.

Tes keperawanan yang biasanya dilakukan dengan mengecek selaput dara juga bersifat tidak adil, sehingga beberapa wanita yang menjalaninya mungkin akan mengalami trauma. Karena itu, banyak wanita takut menjalani tes ini. Apalagi tesnya hanya dilakukan dengan melihat bentuk dan ukuran vagina, serta robek atau tidaknya selaput dara wanita tersebut.

Reference
Share