apa penyebab sariawan
Kesehatan Umum

Apa Penyebab Sariawan pada Bibir, Lidah, dan Gusi?

dr. Wisniaty Condro | Februari 24, 2022
Share

Bisa terjadi pada siapa saja, sariawan adalah salah satu luka yang tidak kalah mengganggu dengan penyakit mulut lainnya. Biarpun bisa sembuh dengan sendirinya, sariawan yang tak kunjung membaik bisa menandakan adanya penyakit berbahaya yang lebih serius.

Lantas, apa yang menyebabkan seseorang mengalami sariawan dan bagaimana cara mengobatinya? Berikut adalah sejumlah penyebab dan beragam cara pengobatan sariawan yang sayang jika kamu lewatkan.

Sariawan

Sariawan adalah luka kecil yang muncul di lapisan jaringan pada gusi, bibir, pipi bagian dalam, ataupun langit-langit mulut. Berwarna putih kekuningan dengan tepian berwarna merah, sariawan bisa terasa sangat menyakitkan hingga mempersulit kamu yang hendak makan, minum, ataupun berbicara.

Sariawan terjadi karena beberapa penyebab mulai dari cedera, perubahan hormon, hingga tekanan atau stres emosional. Meskipun tidak menular dan bisa sembuh dengan sendirinya, sariawan bisa saja tumbuh di satu titik maupun menyebar dalam jumlah lebih dari satu.

Oleh karena itu, akan lebih baik jika kamu melakukan beberapa cara pengobatan untuk meredakan nyeri sariawan. Tapi, apa sih yang memicu atau menyebabkan kamu mengalami sariawan?

Apa penyebab sariawan?

Sariawan terjadi karena adanya cedera pada jaringan di sekitar mulut. Akan tetapi, sariawan tidak selalu pasti disebabkan oleh cedera. Jadi, kamu mungkin mengalami sariawan akibat cedera sementara yang lain tidak.

Biarpun begitu, secara garis besar sariawan bisa disebabkan oleh beberapa hal mulai dari perawatan gigi, makanan, minuman, hingga perubahan hormon. Di bawah ini adalah penyebab sariawan:

  • Tidak sengaja menggigit pipi atau lidah
  • Luka akibat perawatan gigi
  • Cedera saat menyikat gigi
  • Reaksi alergi terhadap makanan atau obat-obatan tertentu
  • Memakai kawat gigi ortodontik atau retainer
  • Memakai gigi palsu dengan ukuran yang tidak pas serta tidak bersih
  • Menggunakan pasta gigi berbahan keras atau abrasif
  • Banyak mengonsumsi makanan asam, pedas, keras
  • Perubahan hormon menjelang periode menstruasi
  • Iritasi dari antiseptik dengan bahan yang kuat atau keras
  • Tekanan atau stres
  • Kurang tidur atau tubuh yang terlalu lelah
  • Kekurangan vitamin seperti B12 atau zat besi
  • Infeksi virus entah bakteri maupun jamur

Selain beberapa penyebab sariawan di atas, jika kamu biasanya memiliki kebiasaan merokok dan berhenti melakukannya maka kemungkinan besar kamu akan mengalami sariawan saat pertama kali kamu berhenti merokok. Di sisi lain, faktor genetika keluarga juga memicu risiko atau intensitas sariawan.

Penyebab sariawan di lidah

Sama seperti sariawan pada umumnya, sariawan di lidah muncul dengan berbagai ukuran. Tapi, tahukah kamu jika penyebab sariawan di lidah tidaklah sama dengan sariawan di bibir dan di gusi? Berikut adalah sejumlah penyebab sariawan di lidah yang perlu kamu ketahui:

  • Lidah tidak sengaja tergigit
  • Sering makan makanan yang pedas
  • Menyikat gigi dengan cara yang salah
  • Sering mengunyah makanan yang keras
  • Pemasangan kawat gigi yang tidak pas
  • Gigi yang tidak sejajar atau bengkok
  • Tekanan atau stres
  • Merokok atau berhenti merokok
  • Perubahan hormonal selama siklus menstruasi
  • Infeksi herpes simpleks
  • Menderita penyakit Behcet, Crohn, Celiac, atau Pemfigus Vulgaris
  • Gangguan fungsi kekebalan tubuh
  • Gangguan sistem pencernaan
  • Penggunaan obat penghilang rasa sakit atau beta-blocker

Terlepas dari sejumlah penyebab tersebut, sariawan di lidah bisa saja terjadi karena makanan seperti buah jeruk, lemon, tumat, cokelat, kacang tanah, serta kacang almond. Terkadang, tubuh yang kekurangan vitamin B6 juga memicu sariawan berulang.

Penyebab sariawan di bibir

Secara garis besar, sariawan di bibir terjadi karena cedera seperti tidak sengaja menggigit bibir atau penggunaan kawat gigi. Tapi, tentu saja penyebab sariawan di bibir tidak hanya terbatas pada cedera. Kamu mungkin mengalami sariawan di bibir karena:

  • Mengonsumsi makanan tertentu
  • Menggunakan obat-obatan tertentu
  • Memiliki beberapa riwayat penyakit tertentu

Terkadang, sariawan yang muncul di bibir juga dipicu oleh kebiasaan seperti merokok atau bahkan berhenti merokok. Oleh karena itu, entah kamu hendak menyantap makanan, minuman, menggunakan obat, maupun merokok, cobalah untuk lebih berhati-hati dan menghindari faktor penyebab sariawan di bibir.

Penyebab sariawan di gusi

Berhubungan erat dengan peralatan gigi, sariawan di gusi umumnya disebabkan oleh iritasi pada gusi. Nah, iritasi ini bisa terjadi karena bahan kimia pada peralatan gigi. Maksudnya, kamu mungkin menggunakan pasta gigi atau obat kumur berbahan dasar keras.

Terkadang, sariawan di gusi juga tidak lepas dengan penggunaan sikat gigi berbulu kasar. Dibarengi dengan kesalahan cara menyikat gigi, kondisi kesehatan jaringan pada gusi bisa semakin memburuk sehingga terjadilah sariawan pada gusi.

Terlepas dari kedua hal tersebut, ingatlan untuk berhati-hati saat menggunakan kawat gigi, gigi palsu, retainer, serta pelindung mulut. Peralatan-peralatan ini dapat berpotensi menyebabkan iritasi pada gusi. Ketika iritasi terjadi, ada baiknya jika kamu tidak menyepelekan sariawan agar tidak membahayakan tubuh.

Ciri-ciri sariawan

Kamu mungkin akan mengalami ciri-ciri yang berbeda antara satu penderita sariawan dengan penderita lain. Biasanya ciri-ciri sariawan tergantung dari penyebab utama sariawan terjadi. Tapi, secara umum sariawan akan menunjukan beberapa ciri seperti:

  • Muncul luka berbentuk bulat atau oval di sekitar mulut bagian dalam
  • Luka berwarna putih kekuningan atau abu-abu
  • Tepi luka berwarna kemerahan
  • Luka muncul dalam jumlah satu atau lebih
  • Terjadi pembengkakan di sekitar ulkus
  • Daerah mulut terasa sakit saat menyikat gigi
  • Mulut terasa nyeri saat makan makanan pedas, asin, atau asam

Ketika kamu mengalami sariawan, kamu mungkin juga akan kesulitan saat mengunyah makanan ataupun menyikat gigi. Akibatnya, kebanyakan penderita mengalami penurunan nafsu makan.

Apakah sariawan berbahaya?

Meskipun memberikan rasa sakit yang tidak nyaman, sariawan bukanlah masalah serius yang berbahaya. Sariawan juga bisa sembuh dengan sendirinya selama 10 sampai 14 hari, bahkan tanpa dibarengi dengan pengobatan.

Sayangnya, jika sariawan tidak membaik setelah 14 hari atau justru semakin memburuk, sebaiknya kamu melakukan konsultasi dengan dokter. Sariawan yang tidak kunjung membaik seringkali berkaitan dengan penyakit diabetes, gangguan kekebalan tubuh, penyakit radang usus, Celiac, Behcet, serta HIV/AIDS.

Tidak lupa, beberapa sariawan yang parah bahkan menandakan kamu memiliki kanker mulut. Dalam beberapa kasus, untuk memastikan apakah sariawan berbahaya, dokter akan melakukan tes darah hingga pengambilan sampel jaringan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Cara mengobati sariawan

Selain rasa sakit dan tidak nyaman, sariawan dapat mempersulit kegiatan seperti makan, minum, dan menggosok gigi. Untuk membantu memulihkan kondisi sekitar mulut, kamu bisa melakukan beberapa cara pengobatan mulai dari rumahan hingga resep dokter.

Jika kamu memilih pengobatan rumahan yang sederhana maka berikut adalah cara alami mengobati sariawan:

  • Minum banyak air mineral setiap hari
  • Jagalah kebersihan mulut
  • Bilas mulut dan kumur dengan air garam hangat beberapa kali setiap hari
  • Hindari makanan panas dan pedas sampai sariawan sembuh
  • Gunakan sikat gigi berbulu halus dan lembut
  • Hindari penggunaan pasta gigi berbahan natrium lauryl sulfate
  • Hindari minuman keras
  • Gunakan sedotan saat ingin minum minuman dingin
  • Makan makanan yang lembut
  • Pastikan pola makan sehat dan seimbang

Sementara, jika kamu memilih untuk menjalankan pengobatan atau perawatan dari dokter maka kemungkinan besar dokter akan memberikan obat topikal seperti gel antiseptik, salep steroid, atau bahkan obat kumur antimikroba.

Jika tidak parah, kamu mungkin akan menerima obat pelega tenggorokan yang bisa membantu mengurangi rasa sakit dan mempercepat penyembuhan. Sementara, jika kasus sariawan yang kamu alami lebih parah atau serius, dokter mungkin akan memberikan resep obat berupa imunosupresan.

Reference
Share