hiv pada ibu hamil
Kehamilan

HIV pada Ibu Hamil: Ciri-ciri, Tingkat Penularan, dan Bahayanya

dr. Wisniaty Condro | Maret 9, 2022
Share

Sebagai salah satu penyakit menular, HIV memang banyak dikhawatirkan terutama bagi ibu hamil. Selain berpotensi menularkan virus pada janin, HIV pada ibu hamil yang serius bisa membawa masalah seperti keguguran atau bayi lahir mati.

Oleh karena itu, ibu hamil bisa mulai mencari tahu ciri-ciri infeksi penyakit ini dan melakukan pemeriksaan HIV di layanan kesehatan terdekat. Tapi, berapa persenkah risiko atau tingkat penularan HIV pada ibu hamil ke janin mereka? Mari cari tahu lebih lanjut dengan membaca ulasan berikut ini.

Mengenal apa itu HIV

HIV atau human immunodeficiency virus adalah virus menular yang melemahkan atau merusak sistem kekebalan tubuh. Dalam kasus yang parah, HIV bisa membawa penderita pada penyakit acquired immunodeficiency syndrome (AIDS).

Virus HIV masuk ke dalam darah melalui cairan tubuh seperti darah atau air mani. Ketika virus telah masuk ke dalam darah maka virus akan menyerang dan membunuh sel sistem kekebalan tubuh (CD4).
Akibatnya, penderita atau pengidap akan mengalami kesulitan untuk melawan berbagai jenis penyakit dan mudah terserang infeksi. HIV sendiri bisa menyerang siapapun baik pria maupun wanita, bahkan ibu hamil sekalipun.

Lantas, jika terjadi pada ibu hamil, apa penyebab ibu hamil terinfeksi penyakit HIV? Di bawah ini adalah penjelasannya.

Apa penyebab penyakit HIV pada ibu hamil?

Sama seperti HIV yang diderita oleh wanita tidak hamil ataupun pria, penyakit HIV terjadi karena human immunodeficiency virus masuk ke dalam aliran darah dan menyerang sistem kekebalan tubuh. Biasanya, virus ini diperoleh sang ibu karena telah melakukan hubungan seksual yang tidak sehat.

Selain hubungan seksual vaginal, anal, maupun oral yang tidak sehat, ada beberapa penyebab penyakit HIV pada ibu hamil seperti:

  • Pernah berbagi jarum suntik yang telah terkontaminasi
  • Menggunakan jarum pada alat tato yang tidak steril secara bergantian
  • Memperoleh atau menerima transplantasi organ dari pendonor dengan riwayat HIV

Terlepas dari penyebab di atas, ibu hamil bisa meningkatkan risiko penularan atau bahkan tertular HIV karena memiliki kebiasaan seperti merokok, kekurangan vitamin A, atau malnutrisi. Lalu apa saja ciri-ciri HIV pada ibu hamil?

Ciri-ciri HIV pada ibu hamil

Ibu hamil yang terpapar virus HIV tentu menunjukkan gejala tertentu. Sayangnya, gejala awal seperti flu yang terjadi beberapa minggu setelah infeksi sering kali tidak disadari atau dinilai sebagai sakit biasa.
Supaya kamu tidak terlambat melakukan pemeriksaan dan pengobatan, ada beberapa ciri-ciri HIV pada ibu hamil yang bisa kamu perhatikan yakni:

  • Sakit kepala
  • Demam
  • Tubuh mudah atau terasa lelah, lemas, dan kekurangan energi
  • Muncul ruam pada kulit
  • Mengalami sakit tenggorokan
  • Pembengkakan kelenjar bening pada tubuh

Sejumlah gejala HIV di atas masuk dalam kategori gejala awal yang ringan. Sementara, ada beberapa gejala tahap lanjut yang bisa kamu waspadai seperti:

  • Batuk kering
  • Tubuh berkeringat di malam hari
  • Berat badan menurun
  • Diare yang tak kunjung membaik
  • Muncul bercak di lidah, dalam mulut, atau tenggorokan
  • Pneumonia
  • Menurunnya kemampuan otak dalam mengingat (kehilangan ingatan)
  • Mengalami depresi

Jika setelah berbagi jarum suntik atau melakukan hubungan seksual dengan banyak pasangan kamu mengalami beberapa ciri-ciri di atas, kamu bisa menghubungi dokter untuk berkonsultasi. Tentu saja, akan lebih baik jika kamu menjalankan pemeriksaan dan pengobatan lebih awal sebelum kondisi kesehatanmu memburuk.

Berapa persen penularan HIV pada ibu hamil ke janin?

Penularan HIV pada ibu hamil ke janin bisa terjadi saat bayi dalam kandungan melalui plasenta, selama proses persalinan, dan bahkan pada periode menyusui. Diperkirakan, penularan HIV dari ibu hamil yang tidak menjalankan pengobatan kepada janin adalah sebesar 25 hingga 30%.

Untungnya, jika ibu hamil melakukan pengobatan dan perawatan maka risiko penularan HIV kepada janin berkurang menjadi 2% atau bahkan lebih sedikit daripada itu. Jadi, biasanya dokter merekomendasikan ibu hamil untuk menggunakan obat HIV selama kehamilan, persalinan, dan setelah melahirkan.

Lantas, apakah HIV yang terjadi pada ibu hamil berbahaya bagi ibu dan janin?

Apakah HIV pada ibu hamil berbahaya?

HIV yang tidak dibarengi dengan pengobatan dan perawatan tentu berbahaya baik untuk ibu hamil maupun si kecil dalam kandungan. Karena virus HIV menular melalui darah maka kemungkinan bayi telah terinfeksi sejak dalam kandungan.

Biarpun begitu, dengan melakukan pengobatan yang telah disarankan dan diresepkan oleh dokter, ibu hamil bisa mencegah penularan dan risiko kesehatan lain seperti pneumonia, toksoplasmosis, TBC, penyakit kelamin, hingga kanker. Tidak lupa, selama kehamilan, ibu harus rutin melakukan pemeriksaan.

Pemeriksaan HIV pada ibu hamil

Selain melindungi kesehatan sang ibu, pemeriksaan, perawatan, dan pengobatan HIV selama kehamilan juga dapat mencegah penularan HIV kepada janin. Dokter mungkin akan merekomendasikan sejumlah obat yang bisa menurunkan jumlah HIV dalam tubuh sang ibu.

Umumnya, dokter akan melakukan pemeriksaan awal dengan mengambil sampel atau tes darah. Entah itu dengan memeriksa beban virus dalam darah ataupun jumlah sel CD4, jika hasil menunjukkan ibu hamil terinfeksi virus HIV maka ibu hamil akan menjalankan pengobatan dan pemeriksaan rutin.

Reference
Share