ciri ciri penyakit kista pada wanita yang belum menikah
Organ Reproduksi Penyakit

11 Ciri Penyakit Kista pada Wanita yang Belum Menikah

dr. Wisniaty Condro | April 12, 2022
Share

Dinilai tidak memandang usia, penyakit kista dapat terjadi pada siapa saja. Bukan hanya dialami oleh wanita yang sudah menikah atau melahirkan, penyakit kista bisa saja menyerang wanita yang belum menikah.

Kendati demikian, kamu tidak perlu khawatir sebab kamu bisa memperhatikan sejumlah ciri-ciri penyakit kista pada wanita yang belum menikah. Penasaran? Simak penjelasan dan seluk beluk penyakit kista pada wanita di bawah ini.

Apa itu penyakit kista pada wanita?

Penyakit kista pada wanita adalah kondisi di mana terdapat kantung atau benjolan berisi cairan pada atau di permukaan ovarium. Kista paling sering terjadi pada wanita yang telah menikah, melahirkan, atau yang belum mengalami menopause.

Namun, kondisi tersebut tidak menutup kemungkinan bagi wanita yang belum menikah untuk mengalami kista. Pada beberapa kasus, kista biasanya tidak memberikan rasa sakit dan bisa hilang dengan sendirinya.
Lantas, apa kista jenis apa yang paling umum dialami oleh wanita?

Kista yang umum pada organ reproduksi wanita

Ada dua jenis kista yang biasanya terjadi pada organ reproduksi wanita yakni kista ovarium fungsional dan kista ovarium patologis. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing jenis kista tersebut:

Kista ovarium fungsional

Berkembang dari siklus menstruasi, kista ovarium fungsional biasanya tidak berbahaya dan bisa sembuh dengan cepat.

Kista folikel

Terjadi ketika kantung tidak terbuka atau folikel tidak pecah untuk melepas sel telur, kista folikel umumnya sembuh dengan sendirinya dalam 1 hingga 3 bulan.

Kista korpus luteum

Terjadi saat folikel kosong, menyusut, dan menutup untuk mempersiapkan sel telur berikutnya, kista korpus luteum bisa hilang dalam beberapa minggu atau bahkan memberikan rasa sakit hingga mengeluarkan darah.

Kista ovarium patologis

Terbentuk dari pertumbuhan sel dalam tubuh yang tidak nomal, kista ovarium patologis mungkin lebih jarang terjadi jika dibandingkan dengan kista ovarium fungsional.

Kista pada organ reproduksi wanita sebagian besar bersifat non-kanker atau jinak. Tapi, sejumlah kecil masalah kista ovarium terbukti bersifat kanker atau ganas. Lalu, apa penyebab kista pada organ reproduksi wanita?

Penyebab kista pada organ reproduksi wanita

Kebanyakan kasus penyakit kista yang terjadi adalah kista ovarium fungsional. Kista jenis ini terjadi karena siklus menstruasi yang wanita alami setiap bulannya. Akan tetapi, ada beberapa penyebab lain dari kista pada organ reproduksi wanita seperti:

  • Masalah hormon
  • Mengonsumsi obat kesuburan
  • Kehamilan
  • Memiliki endometriosis
  • Mengalami infeksi panggul yang parah
  • Masalah folikel yang terus bertumbuh dan tidak pecah atau melepaskan telur
  • Penumpukan cairan di dalam folikel
  • Kondisi kesehatan tertentu seperti menderita PCOS

Selain beberapa penyebab di atas, ada faktor risiko yang meningkatkan potensi kista pada wanita yakni pernah mengalami kista ovarium sebelumnya. Kemudian, apa yang menandakan wanita mengalami kista? Berikut adalah ciri-cirinya.

Ciri penyakit kista pada organ reproduksi wanita

Kista ovarium umumnya tidak menimbulkan gejala atau ciri apapun. Tapi, saat kista mengalami ruptur atau pecah, berukuran sangat besar, atau menghalangi suplai darah ke ovarium maka wanita mungkin mengalami beberapa gejala.

Ciri-ciri penyakit kista yang bisa kamu perhatikan diantaranya:

  1. Panggul terasa nyeri
  2. Merasakan sakit saat melakukan hubungan seksual
  3. Sulit buang air besar
  4. Sering buang air kecil
  5. Siklus menstruasi yang tidak teratur
  6. Mengalami kembung atau perut buncit
  7. Mudah merasa kenyang meskipun hanya makan sedikit
  8. Sakit perut yang parah dan tiba-tiba
  9. Tubuh terasa lemas hingga mengalami pingsan
  10. Mengalami pusing
  11. Napas menjadi cepat

Apabila kamu merasakan gejala seperti nyeri perut atau panggul secara tiba-tiba dan terasa sangat sakit serta demam hingga muntah, segera hubungi dokter untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan.

Diagnosis penyakit kista

Setelah melakukan konsultasi dengan dokter, dokter akan meminta kamu untuk menjalankan beberapa pemeriksaan. Dokter mungkin akan merekomendasikan beberapa jenis tes untuk membantu diagnosis penyakit kista, seperti:

  • USG panggul
  • Laparoskopi
  • Tes darah CA125

Proses diagnosis dan pemantauan mungkin akan dilakukan dalam kurun waktu tertentu seperti beberapa minggu. Jika dokter menemukan adanya kemungkinan kista menyebabkan kanker maka dokter mungkin akan melakukan tes darah.

Bahaya penyakit kista pada wanita

Penyakit kista yang dialami oleh wanita dapat menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya. Oleh karena itu, lakukan pemeriksaan agar kamu terhindar dari sejumlah komplikasi yang sering terjadi seperti:

  • Torsi ovarium atau memutarnya ovarium
  • Pecahnya kista yang menyebabkan pendarahan internal
  • Sering buang air kecil
  • Ovarium keluar dari posisi normal

Dalam beberapa kasus, kista ovarium bisa saja membawa wanita pada masalah kesuburan. Terkadang, kasus kista ovarium juga berkembang menjadi kanker ovarium. Jadi, jika hasil diagnosis memberikan hasil yang positif maka segera jalankan perawatan ya.

Terapi penyakit kista pada wanita

Dalam mengatasi penyakit kista pada wanita, dokter akan menyesuaikan perawatan sesuai dengan ukuran kista, gejala, perkembangan kista, dan juga kondisi tubuh wanita. Jika dinilai bisa hilang dengan sendirinya maka dokter hanya akan mengamati perkembangan kista.

Akan tetapi, kista menyebabkan rasa sakit maka kemungkinan dokter akan memberikan obat pereda rasa sakit. Tidak jarang, dokter juga memberikan obat-obatan lain seperti obat pil KB.

Di sisi lain, jika ukuran kista dinilai cukup besar maka kamu mungkin memerlukan operasi pembedahan. Dalam operasi pembedahan, dokter akan mengangkat kista atau bisa jadi seluruh ovarium, tergantung tingkat keparahan kista yang wanita derita.

Meskipun secara umum tidak ada cara mencegah penyakit kista, kamu bisa melakukan upaya pencegahan sederhana dengan rutin melakukan pemeriksaan panggul. Tidak lupa, perhatikan siklus menstruasi dan gejala menstruasi yang tidak biasa.

Reference
Share