apa itu autisme

apa itu autisme

Menurut World Health Organization (WHO), penyakit autisme diperkirakan terjadi pada 1 dari 100 anak-anak di seluruh dunia. Penyakit autisme merupakan disabilitas yang disebabkan oleh gangguan perkembangan pada otak.

Alhasil, orang yang mengalami kondisi ini akan memiliki masalah pada komunikasi dan interaksi sosial serta memiliki perilaku berulang atau repetitif.

Agar dapat mengubah stigma dan diskriminasi pada pengidap autisme, yuk kita simak dulu ulasannya di bawah!

Apa itu penyakit autisme?

Autisme atau yang disebut dengan autism spectrum disorder (ASD) merupakan kumpulan berbagai kondisi yang berhubungan dengan gangguan perkembangan pada otak. Hal ini berupa cara individu berkomunikasi, belajar, bersikap, dan berinteraksi sosial.

Orang dengan penyakit autisme dapat memiliki pola repetitif yang khas dari segi perilaku ataupun justru hanya tertarik pada hal tertentu. Akan tetapi, tidak semua pengidap autisme akan memiliki gejala tersebut. Terkadang, justru mereka dikaruniai kemampuan ataupun bakat istimewa.

Kondisi autisme biasanya akan terlihat pada tahap awal masa kanak-kanak dan memengaruhi kemampuan dasar anak. Baik anak-anak maupun orang dewasa ternyata dapat mengalami ASD.

Penyebab autisme pada anak

Beberapa bukti ilmiah menunjukkan bahwa penyebab autisme pada anak mungkin disebabkan oleh banyak faktor, meliputi faktor lingkungan dan genetik.

Berita yang sempat simpang siur beredar mengenai vaksinasi menyebabkan autisme sebelumnya ternyata memiliki kelemahan pada sistem metodologi. Jadi, autisme sama sekali tidak berkaitan dengan vaksinasi campak, gondong, dan rubella maupun vaksinasi lainnya.

Beberapa faktor yang dicurigai meningkatkan risiko ASD seperti:

  • Memiliki riwayat keluarga yang mengalami autisme
  • Mutasi gen tertentu
  • Fragile X syndrome dan penyakit genetik lainnya
  • Lahir dari orangtua berusia lanjut
  • Berat badan lahir rendah
  • Gangguan keseimbangan metabolik
  • Paparan terhadap logam berat dan toksin lingkungan
  • Riwayat infeksi virus pada ibu saat hamil
  • Paparan obat-obatan seperti asam valproat atau thalidomide pada janin

Ciri-ciri autisme pada anak

Bahkan ketika masih bayi, anak dengan ASD akan terlihat berbeda terutama jika dibandingkan dengan anak lain yang juga seumuran. Mereka akan menjadi sangat fokus pada objek tertentu, jarang melakukan kontak mata, dan tidak dapat berkomunikasi dua arah seperti mengoceh pada orangtuanya.

Pada kasus lainnya, anak dapat tumbuh dengan normal pada tahun kedua dan ketiga usianya, namun kemudian mulai menarik diri dan tidak peduli dengan lingkungan di sekitarnya.

Keparahan ASD dapat berbeda tergantung pada derajat gangguan aspek komunikasi sosial, kecenderungan dalam melakukan aktivitas sama di tempat yang sama, dan pola perilaku repetitif terhadap fungsi keseharian individu tersebut.

Untuk mendiagnosa autisme, seseorang harus memenuhi 2 kategori di bawah ini.

1. Kesulitan interaksi dan komunikasi sosial

Individu dengan autisme kebanyakan sulit melakukan interaksi sosial. Komunikasi yang umumnya berlangsung dua arah seringkali menjadi salah satu kendala yang dialami. Selain itu beberapa kesulitan lainnya yang dapat ditemui dapat berupa:

  • Menghindari kontak mata dengan orang lain
  • Tidak merespon ketika namanya dipanggil saat berusia 9 bulan
  • Tidak dapat menunjukkan ekspresi wajah sedih, senang, marah dan terkejut saat berusia 9 bulan
  • Hanya menggunakan sedikit gestur atau bahkan tidak sama sekali saat berusia 12 bulan
  • Tidak saling berbagi ketertarikan pada anak seusia mereka, misalnya menunjukkan benda yang mereka sukai saat berusia 15 bulan
  • Tidak menunjuk-nunjuk untuk memperlihatkan sesuatu yang menarik pada orang lain saat berusia 18 bulan
  • Tidak menyadari orang lain terluka ataupun sedang marah saat berusia 24 bulan
  • Tidak menyadari ketika ada anak lain yang ikut bergabung bermain bersama mereka saat berusia 36 bulan
  • Tidak mencoba berpura-pura berperan sebagai suatu karakter, misalnya peran guru atau pahlawan saat sedang bermain saat berusia 48 bulan
  • Tidak bernyanyi, menari atau menunjukkan kemampuannya padamu saat berusia 60 bulan
  • Hanya berinteraksi dengan orang tertentu untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan
  • Tidak memahami bagaimana cara bermain atau berinteraksi dengan anak-anak lain dan cenderung menyendiri
  • Sulit memahami perasaan orang lain atau berbicara mengenai perasaan mereka sendiri
  • Kemampuan berbahasa yang berbeda, mulai dari tidak berbicara sama sekali hingga berbicara dengan lancar namun canggung ataupun tidak sesuai

Beberapa anak dengan ASD bisa mengalami keterlambatan berbicara dan berbahasa, mengulangi frasa dan memberikan jawaban yang sama sekali tidak berhubungan dengan pertanyaan yang diberikan

Selain itu, orang dengan ASD juga akan kesulitan untuk menggunakan dan memahami bahasa non verbal seperti gestur, bahasa tubuh, atau intonasi suara. Contohnya, anak dengan ASD mungkin tidak mengerti apa itu lambaian tangan saat berpisah.

Atau, orang dengan ASD akan berbicara dengan suara datar seperti robot atau menyanyikan topik yang disukai tanpa terlalu memedulikan orang yang sedang berbicara dengan mereka.

2. Perilaku khas dan repetitif

Selain gangguan pada komunikasi dan interaksi sosial yang disebutkan di atas, autisme juga akan menunjukkan gejala berupa perilaku khas dan repetitif seperti:

  • Gerakan berulang seperti mengepak-ngepakan lengan, bergoyang dari satu sisi ke sisi lain, berputar, atau berlari ke depan dan belakang
  • Menyusun benda-benda seperti mainan dengan secara berurutan dan akan marah saat urutan tersebut diubah
  • Mengulangi kata atau frasa yang mereka dengarkan berulang kali
  • Mudah merasa kesal terhadap perubahan-perubahan kecil
  • Cenderung hanya berfokus pada suatu bagian dari benda seperti roda truk mainan atau rambut boneka
  • Merespon terhadap stimulasi sensori baik suara, aroma, dan rasa secara berbeda
  • Memiliki obsesi pada tema atau topik tertentu seperti pesawat terbang atau mengingat jadwal kereta
  • Memiliki kemampuan istimewa seperti bakat di bidang musik atau daya ingat yang luar biasa

Banyak individu dengan ASD memiliki kecenderungan terhadap rutinitas yang ketat misalnya saat akan tidur atau berangkat sekolah. Beberapa anak juga akan marah dan mengalami ledakan emosi terutama saat berada di tempat baru atau lingkungan yang dipenuhi berbagai stimulasi.

Kemampuan dan kebutuhan para pengidap autisme dapat bervariasi dan berubah seiring dengan berjalannya waktu. Oleh karenanya, mereka memerlukan pendekatan mengenai cara belajar, gerak-gerik tubuh, dan cara fokus yang berbeda dari orang biasanya.

Lalu, apa saja pilihan terapi yang ada pada anak dengan autisme?

Pengobatan autisme pada anak

Hingga saat ini, ASD belum dapat disembuhkan. Akan tetapi, pada beberapa orang dengan autisme, beberapa pendekatan dan terapi suportif dapat membantu mengurangi gejala spesifik dan membuat mereka merasa lebih baik. Beberapa terapi tersebut meliputi:

  • Terapi perilaku
  • Terapi permainan
  • Terapi okupasional
  • Terapi fisik
  • Terapi bicara

Adanya berbagai alternatif pilihan terapi bagi pengidap autisme ini dapat membantu memaksimalkan perkembangan kualitas hidup yang dimilikinya. Sayangnya, pengidap autisme dengan disabilitas berat akan membutuhkan perawatan dan bantuan sepanjang hidupnya.

Namun, dengan penanganan yang tepat dan sesuai, anak-anak dengan autisme dapat meningkatkan kemampuan interaksi dan komunikasinya secara efektif agar mereka dapat hidup secara mandiri.

Share artikel ini
Reference