vulvovaginal candidiasis
Kesehatan Umum

Vulvovaginal Candidiasis: Dari Gatal hingga Keputihan

dr. Wisniaty Condro | Desember 29, 2021
Share

Pernahkah kamu mengalami gatal di daerah vagina? Jika kamu pernah merasakannya, tentu kamu tahu benar betapa mengganggunya rasa gatal tersebut. Bahayanya, rasa gatal tersebut bisa berarti bahwa kamu mengalami vulvovaginal candidiasis.

Vulvovaginal candidiasis mungkin masih asing bagi beberapa wanita dan menjadi hal umum bagi yang lainnya. Tidak perlu khawatir bila kamu baru pertama kali mendengar istilah ini sebab, kamu akan segera mengetahui apa itu vulvovaginal candidiasis. Mari simak artikel berikut ini.

Infeksi jamur vulvovaginal candidiasis

Vulvovaginal candidiasis atau kandidiasis di vagina adalah salah satu bentuk infeksi jamur yang terjadi di vagina maupun sekitar vulva. Para ilmuwan memperkirakan bahwa setidaknya satu kali dalam seumur hidup, sekitar 75% wanita mengalami kandidiasis vagina.

Infeksi jamur candidiasis memang sering terjadi di kelompok usia reproduksi, dan jarang terjadi pada wanita prapubertas maupun pascamenopause. Beberapa kriteria wanita yang dinyatakan memiliki risiko terkena infeksi jamur vulvovaginal candidiasis seperti:

  • Ibu hamil
  • Wanita dengan diabetes atau diabetes melitus
  • Menggunakan alat kontrasepsi hormonal oral seperti pil KB
  • Wanita dengan berat badan berlebih
  • Wanita dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah karena infeksi HIV
  • Menggunakan obat-obatan seperti steroid maupun antibiotik tetrasiklin atau amoksisilin
  • Wanita dengan anemia defisiensi besi
  • Menjalankan terapi pengganti hormon berbasis estrogen setelah menopause
  • Memiliki masalah pada kondisi kulit seperti psoriasis vulva, lichen planus, atau lichen sclerosus

Penyebab vulvovaginal candidiasis

Kandidiasis vulvovaginal sering kali disebabkan oleh pertumbuhan jamur Candida albicans yang berlebihan di dalam vagina. Candida merupakan flora yang hidup di dalam tubuh seperti di mulut, tenggorokan, usus, vagina, maupun kulit dalam jumlah sedikit.

Ketika sistem atau lingkungan dalam vagina berubah, Candida yang tadinya berjumlah sedikit dapat berkembang biak dan menimbulkan infeksi. Biasanya perubahan lingkungan dalam vagina dan pertumbuhan jamur dipicu oleh perubahan hormon, penggunaan obat-obatan, serta perubahan sistem kekebalan tubuh.

Jadi, apabila wanita mengalami perubahan hormon seperti estrogen maupun progesteron menjadi lebih banyak, lapisan vagina menjadi matang dan mengandung glikogen. Kondisi ini menyebabkan jamur Candida albicans tumbuh subur.

Oleh karena perubahan hormon, vulvovaginal candidiasis jarang ditemukan atau dialami wanita pascamenopause. Mengapa demikian? Tentu saja karena kadar hormon estrogen wanita umumnya menurun pascamenopause.

Terlepas dari Candida albicans, terdapat spesies Candida non albicans seperti Candida glabrata yang telah ditemukan pada 10-20% wanita yang mengalami kandidiasis vulvovaginal rekuren. Artinya, seseorang mengalami kandidiasis vulvovaginal berulang dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun.

Gejala vulvovaginal candidiasis

Berdasarkan studi yang dilakukan para peneliti, diperkirakan bahwa sekitar 20% wanita (tidak sedang mengandung) berusia 15 hingga 55 tahun memiliki Candida albicans di vagina tanpa gejala apapun. Akan tetapi, beberapa wanita lain merasakan gejala vulvovaginal candidiasis seperti berikut:

  • Keputihan seperti keju cottage atau gumpalan
  • Merasakan sensasi terbakar di vagina maupun vulva
  • Rasa gatal pada vulva dan kulit di sekitarnya
  • Vagina terasa gatal dan nyeri
  • Muncul rasa nyeri saat berhubungan seksual
  • Rasa nyeri atau tidak nyaman ketika buang air kecil
  • Mengalami anyang-anyangan atau disuria
  • Menderita edema pada vulva, fisura (luka atau robekan) dan ekskoriasi (kerusakan kulit)

Meskipun dalam banyak kasus kandidiasis vagina bersifat ringan, beberapa penderita mengalami infeksi yang parah sehingga muncul gejala seperti ruam kemerahan di daerah vulva hingga selangkangan, pembengkakan, bahkan lecet pada dinding vagina.

Berbagai gejala vulvovaginal candidiasis dapat berlangsung dalam beberapa jam hingga berbulan-bulan. Ingatlah bahwa kandidiasis vagina dapat memburuk bila seseorang sering melakukan hubungan seksual.

Diagnosis vulvovaginal candidiasis

Diagnosis vulvovaginal candidiasis dapat ditegakkan berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik untuk menemukan gambaran infeksi atau pengambilan sampel dan kultur untuk mengetahui mikroorganisme penyebab.

Sampel yang diambil dalam bentuk preparat basah (saline dan KOH 10%) akan diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat adanya gambaran hifa jamur. Namun apabila hasil temuan gejala dan pemeriksaan telah mengarah pada infeksi maka dokter dapat memberikan terapi empiris kepada individu.

Pengobatan vulvovaginal candidiasis

Setelah menjalankan diagnosis dengan mengambil sampel dari cairan keputihan, wanita yang dinyatakan positif menyalami vulvovaginal candidiasis akan menerima pengobatan. Berikut adalah beberapa pengobatan vulvovaginal candidiasis yang dinilai efektif untuk mengatasi jamur:

  • Obat pessarium antijamur yang dimasukkan dalam vagina atau tablet vagina
  • Krim dengan kandungan klotrimazol, mikonazol, butokonazol, atau terkonazol
  • Obat antijamur flukonazol atau itrakonazol

Selain beberapa pengobatan tersebut, jika vullvovaginal candidiasis terjadi pada ibu hamil, dokter mungkin akan mengatasinya dengan azol topikal. Jika infeksi tidak kunjung membaik, ini dapat berarti bahwa masalah genital bukan disebabkan oleh jamur Candida melainkan karena alasan lain. Lakukanlah konsultasi dan rutinlah melakukan pemeriksaan.

Beberapa hal dibawah ini juga dapat kamu lakukan untuk menjaga kebersihan vagina dan mencegah infeksi pada vagina:

  • Rutin mengganti pakaian dalam minimal sehari sekali.
  • Pilih ukuran pakaian dalam yang tepat, tidak terlalu sempit dan tidak terlalu besar.
  • Menggunakan pakaian dalam berbahan katun yang mampu menyerap keringat dan mendukung sirkulasi udara daerah intim.
  • Memastikan area organ intim tetap kering dengan segera mengganti pakaian dalam yang basah karena keringat, darah menstruasi, ataupun cairan lain.
  • Hindari menggunakan pembalut, tampon, douching ataupun produk kewanitaan lain yang mengandung deodoran atau pewangi tambahan.
Reference
Share