penyakit klamidia

penyakit klamidia

Penyakit klamidia atau chlamydia merupakan salah satu infeksi menular seksual yang paling sering ditemukan baik pada pria maupun wanita.

Penyakit ini menular melalui hubungan seksual tanpa menggunakan pengaman dan sering dialami oleh kelompok remaja dan dewasa muda yang aktif secara seksual.

Infeksi penyakit ini dapat berakibat pada kerusakan permanen pada sistem reproduksi wanita dan mengganggu kesuburan serta peluang hamil.

Untuk mencegah hal itu, yuk simak apa saja gejala penyakit klamidia hingga pengobatan penyakit ini. Berikut ulasannya.

Pengertian penyakit klamidia

Klamidia adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri. Umumnya individu yang terinfeksi tidak menimbulkan gejala yang signifikan pada tahap awal.

Penyakit ini terkadang disebut infeksi senyap (silent infection) karena rata-rata orang yang terinfeksi baik pria maupun wanita tidak menyadari dirinya telah terinfeksi.

Gejala penyakit ini umumnya timbul beberapa minggu setelah terinfeksi.

Karena bersifat asimptomatik, penyakit klamidia sangat mudah menular dari satu ke yang lainnya tanpa disadari dan sering terlambat mendapatkan pengobatan.

Penyebab

Klamidia adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Chlamydia trachomatis termasuk dalam genus chlamydophila. Bakteri anaerob gram negatif, obligat intraseluler.

Chlamydia trachomatis kemudian dikelompokkan dalam beberapa jenis, yakni:

  • Serovoar A, B, Ba, dan C: menyebabkan penyakit mata serius yang ditandai dengan konjungtivitis kronis hingga dapat menyebabkan kebutaan
  • Serovoar D-K: menyebabkan infeksi pada saluran genital dan neonatal
  • Serovoar L1-L3: Lymphogranuloma venereum (LGV) yang berkaitan dengan ulkus genital pada negara tropis

Infeksi oleh bakteri ini menular melalui cairan vagina atau semen melalui hubungan seksual baik oral, vaginal, maupun anal tanpa menggunakan pengaman seperti kondom.

Selain itu, penyakit ini juga dapat menular melalui orang yang telah terinfeksi melalui kontak pada organ intim meskipun tanpa hubungan seksual.

Dan ibu hamil dapat menularkannya pada bayi saat melahirkan. Penyakit klamidia lebih sering dialami oleh wanita jika dibandingkan dengan pria.

Beberapa faktor risiko lain terjadinya infeksi ini berupa:

  • Melakukan hubungan seksual dengan pasangan baru tanpa menggunakan metode penghalang seperti kondom
  • Memiliki pasangan seksual yang juga aktif berhubungan seksual dengan pasangan lain
  • Memiliki riwayat penyakit klamidia dan penyakit menular seksual lainnya

Gejala

Gejala penyakit klamidia dapat berbeda-beda pada setiap orang tergantung struktur organ genital yang terinfeksi. Berikut beberapa gejala yang dapat dialami oleh pria dan wanita:

Pada wanita, infeksi klamidia dapat menimbulkan gejala yang mirip servisitis atau infeksi saluran kemih (ISK). Gejala tersebut mencakup:

  • Keluarnya cairan vagina berwarna putih, kuning, atau abu-abu yang beraroma tidak sedap
  • Adanya nanah pada urin (pyuria)
  • Rasa ingin berkemih terus-menerus
  • Rasa nyeri atau terbakar saat berkemih (disuria)
  • Adanya pendarahan di antara dua siklus menstruasi
  • Nyeri saat menstruasi
  • Nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia)
  • Gatal dan rasa terbakar pada area vagina
  • Nyeri tumpul pada bagian bawah perut

Pada pria, klamidia dapat menginfeksi bagian uretra dan menimbulkan gejala yang mirip dengan uretritis non gonokokal. Gejala tersebut mencakup:

  • Keluarnya cairan seperti lendir atau air berwarna bening
  • Nyeri dan rasa terbakar saat berkemih (disuria)

Gejala penyakit klamidia yang dapat dialami oleh semua individu selain dapat menginfeksi organ genital juga dapat menginfeksi bagian tubuh lain seperti:

  • Anus. Kamu dapat mengalami rasa nyeri, tidak nyaman, dan keluarnya darah atau lendir
  • Tenggorokan. Kamu dapat mengalami nyeri tenggorokan namun sering tidak menyadarinya
  • Mata. Kamu dapat mengalami gejala konjungtivitis juga bakteri klamidia menginfeksi bagian mata. Gejala yang timbul berupa mata merah, nyeri, dan mengeluarkan cairan

Jadi, jika kamu mengalami gejala-gejala tersebut di atas, kunjungilah profesional kesehatan terdekat untuk mendapatkan pengobatan.

Pengobatan

Penyakit klamidia umumnya dapat diobati dengan penggunaan antibiotik. Sebesar 95% orang akan sembuh jika menggunakan antibiotik yang tepat. Jenis antibiotik yang paling sering diberikan adalah:

  • Doksisiklin. Dikonsumsi setiap hari selama seminggu
  • Azithromisin. Dalam dosis tunggal 1 gram, diikuti dengan 500 mg sekali sehari selama 2 hari

Dokter mungkin akan memberikan antibiotik jenis lain seperti amoksisilin atau eritromisin jika kamu memiliki alergi dengan antibiotik jenis tertentu atau sedang hamil dan menyusui.

Di samping itu, pemberian antibiotik jangka lama dapat digunakan apabila dokter menilai adanya kemungkinan risiko komplikasi klamidia.

Beberapa orang mungkin mengalami beberapa efek samping selama pengobatan seperti nyeri perut, diare, tidak enak badan, dan keputihan pada wanita.

Namun biasanya efek samping yang terjadi bersifat ringan.

Penting untuk diperhatikan bahwa meskipun penyakit klamidia dapat sembuh setelah penggunaan antibiotik selama 1-2 minggu, kamu tetap harus mengikuti pengobatan hingga tuntas dan melakukan kontrol sesuai jadwal yang ditetapkan.

Bagian yang juga tak kalah penting selama pengobatan adalah menghindari aktivitas seksual yang dapat menyebabkan kamu terinfeksi kembali.

Dan pastikan agar pasangan seksual kamu yang mungkin terinfeksi juga mendapatkan pengobatan.

Cara mencegah penyakit klamidia

Cara paling efektif untuk menghindari infeksi klamidia adalh menghindari aktivitas seksual.

Akan tetapi, pada orang yang aktif secara seksual menggunakan metode penghalang saat berhubungan seks adalah salah satu cara yang efektif.

Individu yang aktif secara seksual juga direkomendasikan untuk :

  • Menggunakan penghalang seperti kondom saat berhubungan seks dengan pasangan yang baru
  • Melakukan pemeriksaan terhadap penyakit menular seksual secara berkala baik diri sendiri maupun pasangan
  • Hindari melakukan hubungan seks oral, atau gunakan proteksi hingga kamu dan pasangan telah melakukan skrining penyakit menular seksual
  • Hindari berbagi mainan seks. Namun, jika kamu memutuskan untuk berbagi mainan seks, pastikan telah dicuci dengan benar setelah berhubungan seks dan lapisi dengan kondom

Apabila langkah pencegahan ini dilakukan dengan benar, maka akan membantu kamu menghindari infeksi, kehamilan yang tidak direncanakan dan komplikasi lainnya.

Share artikel ini
Reference