adenomiosis adalah
Kesehatan Umum

Adenomiosis: Gejala, Pemeriksaan, dan Pengobatan

dr. Wisniaty Condro | Maret 23, 2022
Share

Adenomiosis atau adenomyosis adalah kondisi yang seringkali ditemukan pada wanita yang mengeluhkan adanya gangguan pada siklus haid berupa rasa nyeri hingga volume darah yang berlebih ketika sedang haid dan juga nyeri ketika berhubungan seksual.

Gejala-gejala tersebut juga rupanya mirip dengan beberapa kelainan pada sistem organ reproduksi wanita seperti endometriosis, keganasan, polip dan lain sebagainya. Oleh karenanya, kondisi ini cukup sulit dideteksi. Di samping itu juga, adenomiosis ternyata bisa memengaruhi kesuburan pada wanita, loh.

Dari pada penasaran, yuk, kita simak ulasannya di bawah. Selamat membaca.

Apa itu adenomiosis?

Adenomiosis adalah kondisi dimana jaringan normal yang melapisi rahim (lapisan endometrium) tumbuh ke dalam jaringan dinding otot rahim. Jaringan tersebut akan terperangkap dan kemudian tetap berfungsi secara normal, yakni menebal dan meluruh setiap siklus menstruasi. Akibatnya, rahim akan membesar dan terasa nyeri serta volume darah menstruasi semakin banyak.

Adenomiosis memiliki kondisi yang mirip dengan endometriosis karena dapat menimbulkan gejala yang serupa atau tidak bergejala sama sekali. Namun, kedua kondisi ini memiliki beberapa perbedaan, yakni:

Pada adenomiosis, sel-sel yang melapisi rahim tumbuh ke dalam jaringan otot rahim. Sedangkan pada endometriosis, sel-sel tersebut tumbuh di luar rahim, seperti indung telur (ovarium) dan tuba falopi.
Walaupun kedua kondisi ini tersebar secara merata pada rentang wanita usia dewasa, seringkali endometriosis dialami oleh wanita berusia 30 – 40 tahun, sedangkan adenomiosis cenderung dialami wanita berusia 40 – 50 tahun.

Dan tidak menutup kemungkinan bahwa wanita dapat mengalami endometriosis sekaligus adenomiosis. Gejala pada dua kondisi ini biasanya akan mereda setelah wanita masuk periode menopause dimana kadar hormon estrogen telah turun.

Gejala adenomiosis

Tingkat keparahan dan gejala adenomiosis yang dialami pada setiap individu dapat bervariasi di setiap siklus menstruasi karena fluktuasi hormon estrogen yang berperan dalam luruhnya dinding rahim. Sekitar sepertiga wanita dengan kondisi ini bisa tidak mengalami gejala sama sekali, namun beberapa lainnya dapat bergejala hingga mengganggu keseharian mereka.

  • Gejala adenomiosis yang dapat dialami oleh wanita dapat berupa:
  • Pendarahan menstruasi berat (menorrhagia)
  • Nyeri atau kram hebat saat menstruasi (dismenorea)
  • Nyeri saat berhubungan seksual
  • Adanya pendarahan di antara dua siklus menstruasi
  • Kram yang semakin bertambah parah
  • Rahim membesar dan terasa nyeri
  • Nyeri pada area panggul
  • Merasakan adanya penekanan pada kandung kemih dan rektum
  • Infertilitas

Perlu diperhatikan bahwa pendarahan menstruasi yang berat pada adenomiosis juga akan meningkatkan risiko anemia defisiensi besi pada wanita. Jadi, apabila kamu mengalami gejala seperti di atas, kamu perlu berkonsultasi dan memeriksakan diri ke dokter agar mendapatkan penanganan yang sesuai ya.

Pemeriksaan adenomiosis

Deteksi adenomiosis biasanya diketahui saat wanita memeriksakan diri ke dokter karena tidak kunjung hamil ataupun mengalami gejala yang menganggu secara signifikan saat haid. Dokter akan menanyakan riwayat medis terlebih dahulu kemudian melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin akan menyarankan pemeriksaan tambahan lainnya.

Wanita umumnya akan merasakan nyeri pada rahim saat melakukan pemeriksaan manual pada panggul. Jika saat pemeriksaan dokter mendapati adanya pembesaran pada rahim dan mencurigai adenomiosis maka dokter akan menyarankan pemeriksaan lain seperti:

  • Ultrasound transvaginal, pemeriksaan ini dapat melihat kondisi jaringan lapisan dinding rahim yang berada di dalam jaringan otot rahim. Meski demikian, pemeriksaan ini dapat menyebabkan misdiagnosis karena dapat menyerupai fibroid rahim.
  • Magnetic resonance imaging (MRI). Pemindaian MRI adalah pemeriksaan terbaik untuk mengetahui kondisi penebalan dan pembesaran pada area dinding dalam otot rahim yang dapat mengindikasikan adenomiosis
  • Biopsi endometrium, Kadang-kadang, dokter akan mengambil sampel pada jaringan endometrium untuk diperiksa di bawah mikroskop. Meskipun tidak secara akurat mendiagnosis adenomiosis, pemeriksaan ini dapat menyingkirkan kondisi penyakit lain.

Sebenarnya, berbagai pemeriksaan ini tidak dapat mendeteksi adenomiosis secara akurat. Satu-satunya cara untuk mengetahui diagnosis adenomiosis adalah ketika wanita mengalami prosedur pengangkatan rahim (histerektomi) yang dilanjutkan dengan pemeriksaan jaringan rahim di bawah mikroskop.

Tingkat kesembuhan adenomiosis

Tingkat kesembuhan adenomiosis sebenarnya bergantung kepada berat ringannya gejala yang dialami oleh wanita dan keinginan untuk mendapatkan keturunan. Gejala ringan biasanya dapat ditangani dengan pemberian obat pereda nyeri maupun bantalan pemanas (heating pad) untuk meredakan kram.

Selain itu, dokter juga mungkin akan menyarankan beberapa pilihan terapi jika gejala adenomiosis mengganggu aktivitas dan kualitas hidup sehari-hari. Berikut pilihan terapinya:

  • Obat-obat antiinflamasi, seperti obat ibuprofen dan naproxen dapat digunakan untuk meredakan nyeri dan rasa tidak nyaman
  • Terapi hormonal, dalam bentuk pil seperti kontrasepsi oral, intrauterine device (IUD) seperti progestin, maupun injeksi (Depo-provera) dapat membantu meredakan gejala adenomiosis
  • Embolisasi pembuluh darah rahim (uterine artery embolization), merupakan prosedur untuk menghentikan suplai darah pada area rahim yang dituju. Sumbatan tersebut akan membuat adenomiosis menyusut dan meredakan gejala yang ditimbulkan.
  • Histerektomi, merupakan terapi definitif pada adenomiosis dengan mengangkat seluruh rahim. Prosedur ini tidak disarankan untuk wanita yang masih ingin merencanakan kehamilan.

Gejala adenomiosis yang tidak diobati akan dapat tetap muncul atau bahkan semakin memburuk. Akan tetapi, pengobatan adenomiosis umumnya tidak diperlukan apabila individu tidak bergejala, tidak merencanakan kehamilan, dan sedang mendekati periode menopause.

Meski adenomiosis tidak termasuk dalam kondisi yang mengancam jiwa dan dapat hilang sepenuhnya ketika wanita memasuki menopause, namun dampak negatif yang ditimbulkannya dapat memengaruhi kondisi fisik dan mental individu. Jadi jangan ragu untuk memeriksakan diri jika kamu memiliki keluhan saat haid ya.

Reference
Share